Monthly Archives: April 2007

Biar Browsing pake Firefox Kuenceng

- ketik di browser firefox anda dengan keyword “about:config”

.:: settingan cepat dan singkat ::.
- network.dns.disableIPv6 -> true
- network.http.pipelining -> true
- network.http.pipelining.maxrequests -> 8
- network.http.proxy.pipelining -> true
- plugin.expose_full_path -> true <- penambahan dari saya

.:: Fast Computer Fast Connection ::.
- content.interrupt.parsing = true
- content.max.tokenizing.time = 2250000
- content.notify.interval = 750000
- content.notify.ontimer = true
- content.switch.threshold = 750000
- nglayout.initialpaint.delay = 0
- network.http.max-connections = 48
- network.http.max-connections-per-server = 16
- network.http.max-persistent-connections-per-proxy = 16
- network.http.max-persistent-connections-per-server = 8
- browser.cache.memory.capacity = 65536

.:: Fast Computer, Slower Connection ::.
- content.max.tokenizing.time = 2250000
- content.notify.interval = 750000
- content.notify.ontimer = true
- content.switch.threshold = 750000
- network.http.max-connections = 48
- network.http.max-connections-per-server= 16
- network.http.max-persistent-connections-per-proxy = 16
- network.http.max-persistent-connections-per-server = 8
- nglayout.initialpaint.delay = 0
- browser.cache.memory.capacity = 65536

.:: Fast Computer, Slow Connection ::.
- browser.xul.error_pages.enabled = true
- content.interrupt.parsing = true
- content.max.tokenizing.time = 3000000
- content.maxtextrun = 8191
- content.notify.interval = 750000
- content.notify.ontimer = true
- content.switch.threshold = 750000
- network.http.max-connections = 32
- network.http.max-connections-per-server = 8
- network.http.max-persistent-connections-per-proxy = 8
- network.http.max-persistent-connections-per-server” = 4
- nglayout.initialpaint.delay = 0
- browser.cache.memory.capacity = 65536

.:: Slow Computer, Fast Connection ::.
- content.max.tokenizing.time = 3000000
- content.notify.backoffcount = 5
- content.notify.interval = 1000000
- content.notify.ontimer = true
- content.switch.threshold”, 1000000);
- content.maxtextrun = 4095
- nglayout.initialpaint.delay = 1000
- network.http.max-connections = 48
- network.http.max-connections-per-server = 16
- network.http.max-persistent-connections-per-proxy = 16
- network.http.max-persistent-connections-per-server = 8
- dom.disable_window_status_change = true

.:: Slow Computer, Slow Connection (Dial Up) ::.
- content.max.tokenizing.time = 2250000
- content.notify.interval = 750000
- content.notify.ontimer = true
- content.switch.threshold = 750000
- nglayout.initialpaint.delay = 750
- network.http.max-connections = 32
- network.http.max-connections-per-server = 8
- network.http.max-persistent-connections-per-proxy = 8
- network.http.max-persistent-connections-per-server = 4
- dom.disable_window_status_change = true

nb : cocok untuk linux maupun windows
Source:familycode & CaturOK


Irama semangat hidup

Irama semangat hidup

Oleh : Amri Knowledge Entrepreneur

rama semangat hidup Setiap diri kita, hampir setiap hari dihadapkan permasalahan yang silih berganti. Semua permasalahan itu, ada yang terselesaikan dan ada juga yang tidak terselesaikan. Ketika sebuah masalah terselesaikan, yang sangat menarik adalah muncul masalah-masalah baru dan bahkan banyak yang lebih berat dibanding dengan permasalahan sebelumnya.

Ketika menghadapi semuan problema kehidupan itu, ada tiga tipe irama semangat hidup manusia.

Pertama, manusia tipe irama musik tak untung …. tak untung …. tak untung …….

Manusia tipe ini, berkecenderungan untuk berirama selalu “Merasa tidak beruntung”. Jadi apapun yang dihadapi, selalu tetap merasa tidak beruntung. Ketika masalah datang, merasa tidak beruntung. Masalah sudah terselesaikan, juga tetap merasa tidak beruntung, sebab keinginannya, hidup tidak ada masalah sama sekali.

Kedua, manusia tipe irama musik dang … dang …. tung … dang …dang …..tung …..

Manusia tipe ini, berkecenderungan untuk berirama kadang-kadang “Merasa tidak beruntung” dan kadang-kadang “Merasa beruntung”. Jadi apapun yang dihadapi, kadang-kadang merasa beruntung, namun juga sering merasa tidak beruntung. Manusia tipe ini, merasa beruntung kalau mendapatkan banyak kemudahan dan akan merasa tidak beruntung kalau mendapatkan banyak kesulitan.

Ketiga, manusia tipe irama musik untung… untung …untung…untung….

Manusia tipe ini, berkecenderungan untuk berirama selalu “Merasa beruntung”. Jadi apapun yang dihadapi, tetap merasa beruntung. Manusia tipe ini, selalu merasa beruntung, apapun suasana kehidupan yang menghampiri dirinya. Kalau mengalami banyak kemudahan, dirinya merasa beruntung dengan irama musik bersyukur. Sedangkan, ketika mengalami kesulitan juga tetap merasa beruntung dengan irama musik bersabar.

Sahabat CyberMQ

Hidup ini, dari dulu juga tidak jauh berbeda, apapun perkembangan zamannya. Secara garis besar hanya dua, yaitu ada kemudahan dan juga ada kesulitan.

Permasalahannya adalah, irama kehidupan kita menduduki posisi yang mana? Kalau berirama tak untung … tak untung …. akan berkecenderungan untuk tidak pernah merasa beruntung. Apabila berirama dang .. dang tung…dang … dang … tung … berkecenderungan sering sedih dan sering gembira. Sedangkan bagi manusia berirama untung .. untung … untung …. Sangat berkecenderungan untuk selalu merasa beruntung, sebab bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian dalam hidupnya.

Berani hadapi tantangan, menikmati irama musik kehidupan untung .. untung … untung … dalam diri kita!!! Atau lebih senang memilih kesengsaraan hidup, dengan irama musik tak … untung .. tak … untung…… Bagaimana pendapat sahabat???


Terus Senang, Senang Terus

Terus Senang, Senang Terus

Oleh : Amri Knowledge Entrepreneur

Kalau kita sering mendengar moto hidup, tentunya banyak moto hidup yang dianut oleh banyak orang. Salah satunya, kalau kita ingin sukses, moto hidupnya adalah: ”Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian”. Moto ini, kemudian diterjemahkan menjadi :”Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

Ketika kita menggunakan moto itu, maka konsep pemikiran kita adalah kalau ingin sukses dalam hidup harus berani bersakit-sakit dahulu, agar nantinya mampu menikmati aneka kesenangan. Konsep inilah, yang menyebabkan seseorang senang hidup dengan bersakit-sakit dahulu, dengan harapan agar mendapatkan kesenangan dikemudian hari.

Tidak salah memang, kalau kita mempunyai moto hidup seperti itu, namun marilah kita mulai hari ini berani melanggar moto:”Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian”. Mengapa harus dilanggar? Jawabannya sangat sederhana dan sangat mendasar, yaitu:”Buat apa hidup bersakit-sakit dahulu, agar nanti mendapatkan kesenangan”. Bagaimana kalau belum mendapat kesenangan, sudah meninggal, kapan senangnya. Padahal dunia ini, diciptakan oleh Allah swt untuk kita nikmati dengan senang dan cara yang benar.

Moto hidup:”Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, kita langgar menjadi: ”Hidup terus senang, senang terus”. Mengapa hidup harus terus senang, senang terus? Jawabannya juga sangat sederhana dan mendasar, yaitu secara spiritual hidup harus senang.

Caranya sangat sederhana, yaitu kalau kita mendapatkan kesulitan maka bersabar dan orang-orang yang bersabar terhadap kesulitan hidup, pasti dirinya menjadi senang, sambil tetap berusaha agar kesabarannya bisa merubah hidup menjadi lebih baik.

Begitu juga sebaliknya, kalau kita dihadapkan dengan aneka kemudahan maka tinggal bersyukur dan orang-orang yang selalu bersyukur atas kemudahan yang dialaminya, pasti dirinya menjadi senang, sambil mengoptimalkan rasa syukurnya, agar semakin bermanfaat bagi banyak orang.

Contoh sangat sederhana, saya punya sahabat sarjana hukum, kemudian beliau bekerja dan mendapat pekerjaan sebagai office boy, beliau dilecehkan, tidak ada orang yang berterima kasih karena lantai kamar mandi bersih, tidak ada yang minta maaf kalau lantai kantor yang baru dibersihkan dan masih basah, kemudian diinjak oleh beberapa sepatu kotor, sehingga harus di bersihkan lagi.

Alhamdulillah sahabat saya ini tidak minder, tidak sakit hati, tidak merasa diremehkan. Beliau tetap bersabar dan senang dengan pekerjaan itu, walaupun menurut orang lain, ijasah sarjana hukum tidak cocok sebagai office boy. Sedangkan bagi dirinya, pekerjaan apapun adalah menyenangkan asal hasilnya halal. Konsep dirinya adalah, tugas office boy salah satunya adalah membersihkan, maka tidak ada alasan untuk sakit hati.

Beberapa tahun kemudian, angin perubahan berpihak kepadanya, beliau diangkat sebagai salah satu manager di perusahaan itu dengan aneka fasilitas yang sangat luar biasa, ada mobil, rumah dinas, tunjangan anak dan istri, bahkan setiap orang yang bertemu selalu menyapa dengan rasa hormat.

Alhamdulillah, sahabat saya ini tidak menjadi sombong, angkuh, apalagi meremehkan orang lain. Beliau selalu bersyukur dan senang dengan pekerjaan itu tanpa harus lupa diri. Beliau selalu mensyukuri hasil jerih payah yang selama ini dirintis dan bahkan sekarang menjadi penasehat psikologi spiritual bagi sahabat, karyawan, dan bahkan perusahaan-perusahaan lainnya.

Jadi tidak ada alasan bagi kita ini, untuk hidup tidak senang, sebab dengan sabar dan syukur semuanya menjadi baik bagi kita semua. Kalau semua kejadian baik bagi kita, berarti semuanya menjadi sangat menyenangkan.

Berani hadapi tantangan terus senang dan senang terus !!! Bagaimana pendapat sahabat ???


Rindu

Puisi Manusia; “Rindu”


Alloh
jadikan setiap kerinduan yang membuat dada ini mendesah milik Engkau semata
Alloh
kerinduan yang lain itu menyiksa jiwa
Alloh
selamatkan hamba dari siksa menyala
Alloh
isilah tiap sela rongga dada hamba dengan kerinduan menyala akan menyebut asma Mu yang Mulia
Alloh
jadikan kami menjadi jiwa-jiwa perindu ridho Mu
Alloh
jadikan kami jiwa-jiwa perindu perjumpaan dengan Engkau dan rasul Mu
Ya Rahmaan Ya Rahiim
jangan biarkan jiwa ini lelah merindui Mu
Rabbbul ‘alamin
jangan biarkan jiwa ini lengah merindui Mu
Rabb pengabul do’a
jika kau tak mengabulkan do’a kami, maka siapakah yang bisa
Amiin Ya Rabbal ‘alamin


“Learning is never ending adventure”.

” Satu hari tidak belajar, itu salah. Tiga hari tidak belajar, itu kemunduran!
Biasakan setiap hari belajar sesuatu yang baru demi kesuksesan hidup yang lebih bernilai!”

Konfusius yang hidup lebih dari 2500 tahun yang lalu, pada masa hidupnya selalu menekankan akan pentingnya sikap belajar bagi setiap manusia, beliau menganalogikan belajar melalui kata mutiaranya yang popular dan masih relevan sampai hari ini, yang berbunyi:

Belajar adalah seperti sebuah perahu kecil yang melawan arus, kalau tidak maju, berarti mundur.

Memang benar…Kalau kita sebagai pendayung perahu kecil yang sedang melawan arus, berarti kita harus dengan sekuat tenaga untuk mengayuh dan mengayuh dayung agar perahu kita bergerak maju, kalau tidak, tentu perahu kecil kita akan mundur terseret oleh arus air.

Ilustrasi tadi sama persis dengan kehidupan kita sebagai manusia, mulai dari kita lahir, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa dan menjadi tua. Sadar atau tidak sebenarnya proses belajar terus menerus terjadi hingga kita meninggal dunia.

Kemajuan yang diciptakan oleh manusia diabad-abad lampau sampai penemuan penemuan di abad modern ini, semua tercipta karena proses belajar yang terus berlangsung, kita ambil contoh di bidang transportasi dari jaman naik kuda lalu penemuan sepeda, motor, mobil dan pesawat terbang. juga di bidang komunikasi, dari penemuan telpon putar, telpon digital, sampai telpon tanpa kabel atau handphone, hingga penemuan dan perkembangan computer tercanggih saat ini dan kemajuan apapun yang akan terjadi nanti, tidak mungkin lolos dari proses belajar, pasti dan pasti melewati kesadaran belajar dan belajar sebagai titik sentralnya.

Begitu pula saat kita menghadapi kesulitan dan kegagalan, proses belajar juga terjadi, sebaliknya saat mengalami kemajuan, jika ingin mencapai hasil yang lebih hebat lagi, tentu harus belajar dan belajar lagi! Jadi kondisi maju ataupun mundur kita harus siap untuk belajar terus.
Selaras dengan pepatah dalam bahasa inggris
“Learning is never ending adventure”.
Belajar adalah petualangan yang tidak pernah berakhir.

Saat ini apapun kondisi kita, jika ingin kehidupan kita lebih bergairah, sukses dan bernilai, maka sikap mental belajar kita harus dibudayakan secara konsisten.
Mari ciptakan suasana belajar, baik di rumah dengan sekeluarga, di kantor dengan teman-teman, atau dimanapun kita berada.
Jangan lewatkan hari-hari tanpa belajar. Hanya orang yang sadar akan pentingnya belajar dan mampu mempraktekkannya, perjuangan di kehidupannya pasti sukses dan bernilai!

Sekali lagi
” Satu hari tidak belajar, itu salah. Tiga hari tidak belajar, itu kemunduran! Mari biasakan setiap hari belajar sesuatu yang baru demi kesuksesan hidup yang lebih bernilai”

Selamat belajar!


Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso


Kasih Ibunda

Kasih Ibunda

Oleh : Andrie Wongso*)

Suatu pagi di sebuah perkampungan miskin. Tampak seorang ibu dengan penuh semangat sedang membikin adonan untuk membuat tempe, pekerjaan membuat dan menjual tempe telah digeluti selama bertahun-tahun sepeninggal suaminya.

 

Saat membuat adonan, sesekali pikirannya menerawang pada sepucuk surat yang baru diterima dari putranya yang sedang menuntut ilmu di rantau orang. Dalam surat itu tertulis, “Bunda tercinta, dengan berat hati, ananda mohon maaf harus mohon dikirim uang  kuliah agar dapat mengikuti ujian akhir. Ananda mengerti bahwa bunda telah berkorban begitu banyak untuk saya. Ananda berharap secepatnya menyelesaikan tugas belajar agar bisa menggantikan bunda memikul tanggung jawab keluarga dan membahagiakan bunda. Teriring salam sayang dari anakmu yang jauh”.

Dua hari lagi adalah hari pasaran, biasanya tempe hasil buatan si ibu di bawa ke pasar untuk dijual. Kali ini, tempe yang dibuat dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya, dengan harapan mendapatkan lebih banyak uang sehingga bisa mengirimkan ke anaknya.

 

Sehari menjelang hari pasar, hati dan pikiran si ibu panik karena tempe buatannya tidak jadi, entah karena konsentrasi yang tidak penuh atau porsi tempe yang dibuat melebihi biasanya.  Kemudian  si ibu pun  sibuk berdoa dgn khusuk di sela-sela waktu yang tersisa menjelang keberangkatannya ke pasar, memohon kepada Tuhan diberi kemujizatan agar tempenya siap di jual dalam keadaan jadi. Tetapi sampai tibanya dia di pasar, tempenya tetap belum jadi.

Sepanjang hari itu dagangannya tidak laku terjual. Si ibu tertunduk sedih, matanya berkaca-kaca membayangkan nasib anaknya yang bakal tidak bisa mengikuti ujian. Saat hari pasar hampir usai para pedagang lain pun mulai meninggalkan pasar, tiba-tiba datang seorang ibu berjalan dengan tergesa-gesa, “Bu, saya nyari tempe yang belum jadi, dari tadi nggak ada, ibu tahu saya harus cari kemana?” “untuk apa tempe belum jadi kok di cari?” Tanya si penjual heran “Saya mau membeli untuk di kirim ke anak saya di luar kota, dia sedang ngidam tempe khas kota ini” kata ibu calon pembeli. Ibu penjual tempe ternganga mendengar kata-kata yang baru di dengarnya, seakan tak percaya pada nasib baiknya, seolah tangan Tuhan memberi kemurahan kepadanya. Akhirnya tempe dagangannya diborong habis tanpa sisa. Dia begitu senang, bersyukur dan menambah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan diri umatnya selama manusia itu sendiri tidak putus asa dan tetap berjuang.

Kekuatan berusaha dan berdoa

Pepatah kuno menyatakan, Ora et labo`ra, berusaha dan berdoa. Memang, Doa dan usaha harus seiring dan sejalan dalam perjalanan hidup setiap manusia. Doa dibutuhkan untuk mengingatkan kita agar senantiasa menapak langkah di jalan benar yang diridhoi oleh yang Maha Kuasa dan tetap mampu bersikap sabar, gigih dan ulet saat menghadapi segala macam halangan, rintangan dan cobaan, sekaligus mampu memelihara antusiasme dalam memperjuangkan apa yang telah kita tetapkan demi mewujudkan kesuksesan. 

 

Di kesempatan yang berbahagia ini pula, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2007. Mari dengan segenap  kekayaan mental yang  optimis dan aktif, kita singsingkan lengan baju siap bekerja keras untuk mengisi tahun baru ini dengan harapan baru! Semangat baru ! Agar tercapai sukses yang lebih gemilang! Sukses lebih luar biasa!!!


Salam Sukses Luar Biasa!!!
Andrie Wongso


Waktu Yang Tersisa

Waktu Yang Tersisa

Oleh : Andrie Wongso*) 

Suatu hari di sebuah rumah sakit, tampak seorang nenek berumur sekitar 70 tahunan, tiba di rumah sakit dengan tergesa-gesa, segera dia mendaftarkan diri di bagian administrasi rumah sakit sebagai pasien dokter penyakit dalam, dan tidak lama kemudian… si nenek berjalan tertatih membawa kartu pasien dan menghampiri suster yang berada di depan ruang praktek si dokter untuk memberitahu kedatangannya dan memberikan nomer urut antriannya.

“Suster, sekarang pasien nomer berapa? Giliran saya masih harus menunggu berapa lama untuk ketemu dokter?” Tanya si nenek. “Tunggu saja nek, nanti dipanggil sesuai nomer urut” jawab si suster begitu saja. Rupanya nenek adalah pasien lama di sana sehingga tanpa banyak bertanya lagi, ia pun menempati bangku, bersama-sama dengan pasien lain menunggu giliran di panggil. Selang beberapa saat, sikapnya terlihat gelisah, sebentar-bentar dia melihat ke jam dinding, mulai mondar-mandir seolah tidak sabar menanti. Diberanikan diri menghampiri suster dan bertanya dengan was-was karena takut si suster marah. “Masih lama ya sus?” “Ya! Tunggu saja” jawab suster.

Saat giliran nomer urutnya sudah dekat, tiba-tiba ada panggilan darurat dari rumah sakit karena ada pasien gawat yang harus segera ditangani sang dokter. Bergegas dokter pun pergi meninggalkan ruang prakteknya untuk menolong pasien yang lebih membutuhkannya. Si nenek dengan kesal kembali duduk, kemudian berdiri, lalu mulai berjalan mondar-mandir.

Kejadian itu memancing reaksi 2 remaja yang juga sedang menunggu di situ, “Si Nenek itu kelihatan gelisah dan tidak sabaran ya. Sudah setua itu memangnya dia punya kesibukan apa kok menunggu aja tidak sabar begitu” Kemudian ditimpali oleh temannya, “Iya tuh, udah berumur setua itu, ngapain sih kok maunya buru-buru. Waktu kan masih panjang, belum juga larut malam”.

Dengan tidak terduga oleh kedua remaja tadi, si nenek menghampiri mereka dan menyapa ramah, “Anak muda, nenek mendengar apa yang kalian bicarakan tentang nenek. Memang nenek kurang sabar menunggu disini tanpa melakukan sesuatu. Justru karena nenek sudah berumur, nenek tidak memiliki banyak waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang belum sempat nenek lakukan. Kesadaran bahwa sisa waktu nenek yang tidak banyak inilah maka nenek tidak sabar menunggu di sini terlalu lama tanpa bisa melakukan apapun. Tentu kalian bisa mengerti kenapa nenek tidak sabar menunggu kan?”

“Oh, iya.. iya nek. Maafkan kami nek. Kami tidak berpikir panjang tentang waktu yang begitu berharga seperti kata nenek. Sepantasnya kami yang muda pun harus berpikir tidak boleh menyia-nyiakan waktu dengan tidak melakukan apa-apa seperti ini. Terimakasih nenek telah mengingatkan kepada kami”.

 

Pembaca yang berbahagia,
Umur manusia tidak ada seorangpun yang bisa mengukur secara tepat, kapan saat kita lahir dan kapan saat kematian tiba. Jika kesadaran tentang nilai waktu, yakni akan sisa waktu yang dimiliki dan mau memanfaatkan dengan benar sesuai dengan peran kita saat ini, dimanapun kita berada, maka saat itulah kehidupan se-nyatanya baru dimulai.

Waktu adalah kekayaan paling berharga yang dimiliki setiap manusia. Mari kita manfaatkan waktu dengan optimis dan diarahkan pada sasaran hidup yang menantang, sehingga membuat hidup kita semakin hidup, penuh gairah dan bahagia!
Salam sukses luar biasa!

Andrie Wongso


Selembar Cek

Selembar Cek

Oleh : Andrie Wongso*) 

Di sebuah keluarga, tinggallah seorang ayah dengan putra tunggalnya yang sebentar lagi lulus dari perguruan tinggi. Sang ibu beberapa tahun yang lalu telah meninggal dunia. Mereka berdua memiliki kesamaan minat yakni mengikuti perkembangan produk otomotif.

Suatu hari, saat pameran otomotif berlangsung, mereka berdua pun ke sana. Melihat sambil berandai-andai. Seandainya tabungan si ayah mencukupi, kira-kira mobil apa yang sesuai budget yang akan di beli. Sambil bersenda gurau, sepertinya sungguh-sungguh akan membeli mobil impian mereka.

Menjelang hari wisuda, diam-diam si anak menyimpan harapan dalam hati, “Mudah-mudahan ayah membelikan aku mobil, sebagai hadiah kelulusanku. Setelah lulus, aku pasti akan memasuki dunia kerja. Dan alangkah hebatnya bila saat mulai bekerja nanti aku bisa berkendara ke kantor dengan mobil baru,” harapnya dengan senang. Membayangkan dirinya memakai baju rapi berdasi, mengendarai mobil ke kantor.

Saat hari wisuda tiba, ayahnya memberi hadiah bingkisan yang segera dibukanya dengan harap-harap cemas. Ternyata isinya adalah sebuah kitab suci di bingkai kotak kayu berukir indah. Walaupun mengucap terima kasih tetapi hatinya sungguh kecewa. “Bukannya aku tidak menghargai hadiah dari ayah, tetapi alangkah senangnya bila isi kotak itu adalah kunci mobil,” ucapnya dalam hati sambil menaruh kitab suci kembali ke kotaknya.

Waktu berlalu dengan cepat, si anak diterima kerja di kota besar. Si ayah pun sendiri dalam kesepian. Karena usia tua dan sakit-sakitan, tak lama si ayah meninggal dunia tanpa sempat meninggalkan pesan kepada putranya.

Setelah masa berkabung selesai, saat sedang membereskan barang-barang, mata si anak terpaku melihat kotak kayu hadiah wisudanya yang tergeletak berdebu di pojok lemari. Dia teringat itu hadiah ayahnya saat wisuda yang diabaikannya. Perlahan dibersihkannya kotak penutup, dan untuk pertama kalinya kitab suci hadiah pemberian si ayah dibacanya.

Saat membaca, tiba-tiba sehelai kertas terjatuh dari selipan kitab suci. Alangkah terkejutnya dia. Ternyata isinya selembar cek dengan nominal sebesar harga mobil yang diinginkan dan tertera tanggalnya persis pada hari wisudanya.

Sambil berlinang airmata, dia pun tersadar. Terjawab sudah, kenapa mobil kesayangan ayahnya dijual. Ternyata untuk menggenapi harga mobil yang hendak dihadiahkan kepadanya di hari wisuda. Segera ia pun bersimpuh dengan memanjatkan doa, “Ayah maafkan anakmu yang tidak menghargai hadiahmu …. Walau terlambat, hadiah Ayah telah kuterima…… Terima kasih Ayah.. Semoga Ayah berbahagia di sisiNYA, amin”.

Tidak jarang para orang tua memberi perhatian dengan alasan dan caranya masing-masing. Tetapi dalam kenyataan hidup, karena kemudaan usia anak dan emosi yang belum dewasa, seringkali terjadi kesalahfahaman pada anak dalam menerjemahkan perhatian orang tua.

Jangan cepat menghakimi sekiranya harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya tidak menjadikan kita manja hingga selalu menuntut permintaan.

Mari belajar menjadi anak yang pandai menghargai setiap perhatian orang tua.

Demikian dari saya.
Salam sukses luar biasa!!!!

Andrie Wongso


Batu Ruby Yang Retak

BATU RUBY YANG RETAK

Oleh : Andri Wongso *) 

Alkisah, di sebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu ruby yang sangat indah. Raja sangat menyayangi, mengaguminya dan berpuas hati karena merasa memiliki sesuatu yang indah dan berharga. Saat permaisuri akan melangsungkan ulang tahunnya, raja ingin memberikan hadiah batu ruby itu kepada istri tercintanya. Tetapi saat batu itu dikeluarkan dari tempat penyimpanan, terjadi kecelakaan sehingga batu itu terjatuh dan tergores retak cukup dalam.

Raja sangat kecewa dan bersedih. Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan, tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga tersebut. “Mohon ampun Baginda. Goresan retak di batu ini tidak mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti keadaan semula.”

Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang mungkin waktu itu terlewatkan.

Tidak lama kemudian datanglah ke istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh, mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk menghadap. “Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena kerusakan batu ruby kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk melihat dan mencoba memperbaikinya.”

Baiklah, niat baikmu aku kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut.

Setelah melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan semula, tetapi bila diperkenankan, saya akan membuat batu ruby retak ini menjadi lebih indah.”

Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu ruby itu, raja akhirnya setuju. Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok.

Beberapa hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata ruby yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah. Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.”

Si ahli permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah membuat raja yang dicintainya berbahagia.

Netter yang luar biasa,

Di tangan seorang yang ahli, benda cacat bisa diubah menjadi lebih indah dengan cara menambah nilai lebih yang diciptakannya. Apalagi mengerjakannya dengan penuh ketulusan dan perasaan cinta untuk membahagiakan orang lain.

TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI

BATU RUBY YANG RETAK

Saya kira demikian pula bagi manusia, tidak ada yang sempurna, selalu ada kelemahan besar ataupun kecil. Tetapi jika kita memiliki kesadaran dan tekad untuk mengubahnya, maka kita bisa mengurangi kelemahan-kelemahan yang ada sekaligus mengembangkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki sehingga keahlian dan karakter positif akan terbangun. Dengan terciptanya perubahan-perubahan positif tentu itu merupakan kekuatan pendorong yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih sukses dan bernilai!

Salam sukses luar biasa!
Andrie Wongso

http://www.cybermq.com


Pedagang Dan Nelayan

PEDAGANG DAN NELAYAN

Oleh : Andri Wongso*)

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur ke sebuah pulau yang masih asri. Saat merasa bosan, dia berjalan-jalan keluar dari villa tempat dia menginap dan menyusuri tepian pantai. Terlihat Di sebuah dinding karang seseorang sedang memancing, dia menghampiri sambil menyapa,

“Sedang memancing ya pak?”, sambil menoleh si nelayan menjawab,

“Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga kami”.

Kenapa cuma satu-dua ikan pak? Kan banyak ikan di laut ini, kalau bapak mau sedikit lebih lama duduk disini, tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?”

Kata si pedagang yang menilai si nelayan sebagai orang malas. “Apa gunanya buat saya ?” tanya si nelayan keheranan.

“Satu-dua ekor disantap keluarga bapak, sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan ikan bisa ditabung untuk membeli alat pancing lagi sehingga hasil pancingan bapak bisa lebih banyak lagi” katanya menggurui.

“Apa gunanya bagi saya?” tanya si nelayan semakin keheranan.

“Begini. Dengan uang tabungan yang lebih banyak, bapak bisa membeli jala. Bila hasil tangkapan ikan semakin banyak, uang yang dihasilkan juga lebih banyak, bapak bisa saja membeli sebuah perahu. Dari satu perahu bisa bertambah menjadi armada penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari bapak akan menjadi seorang nelayan yang kaya raya”.

Nelayan yang sederhana itu memandang si turis dengan penuh tanda tanya dan kebingungan. Dia berpikir, laut dan tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia dan keluarganya, mengapa harus dihabiskan untuk mendapatkan uang? Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali. Sungguh tidak masuk diakal ide yang ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali meyakinkan, “Kalau bapak mengikuti saran saya, bapak akan menjadi kaya dan bisa memiliki apa pun yang bapak mau”.

“Apa yang bisa saya lakukan bila saya memiliki banyak uang?” tanya si nelayan.

“Bapak bisa melakukan hal yg sama seperti saya lakukan, setiap tahun bisa berlibur, mengunjungi pulau seperti ini, duduk di dinding pantai sambil memancing”.

“Lho, bukankan hal itu yang setiap hari saya lakukan tuan, kenapa harus menunggu berlibur baru memancing?”, kata si nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya semakin heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk menikmati memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.

Netter yang berbahagia,

Pepatah mengatakan, jangan mengukur baju dengan badan orang lain.

Si pedagang mungkin benar melalui analisa bisnisnya, dia merasa apa yang dilakukan oleh si nelayan terlalu sederhana, monoton dan tidak bermanfaat. Mengeruk kekayaan alam demi mendapatkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya adalah wajar baginya.

Sedangkan bagi si nelayan, dengan pikiran yang sederhana, mampu menerima apapun yang diberikan oleh alam dengan puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani setiap hari dengan rasa syukur dan berbahagia.

Memang ukuran “bahagia”, masing-masing orang pastilah tidak sama. Semua kembali kepada keikhlasan dan cara kita mensyukuri, apapun yang kita miliki saat ini.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.