Sang Pemimpi: Buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi

sang-pemimpi.jpg

Judul buku: Sang Pemimpi
Penulis: Andrea Hirata
ISBN: 979-3062-92-4
Penyunting: Imam Risdiyanto
Harga: Rp. 38.000,-

Sang Pemimpi: Tarian imajinasi dan stambul mimpi-mimpi anak-anak Melayu Belitong

Cetakan I, Juli 2006

Sang Pemimpi adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang mempesona yang akan membuat anda percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, lebih dari itu, akan membuat anda percaya kepada Tuhan. Andrea akan membawa Anda berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran dimana Anda akan menemukan pandangan yang berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru.

Tampak komik pada awalnya, selayaknya kenakalan remaja biasa, tapi kemudian tanpa Anda sadari kisah dan karakter-karakter dalam buku ini lambat laun menguasai Anda. Karena potret-potret kecil yang menawan akan menghentakkan Anda pada rasa humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang meresonansi. Karena arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini, Arai dan Ikal, akan menuntun Anda dengan semacam keanggunan dan daya tarik agar Anda dapat melihat ke dalam diri sendiri dengan penuh pengharapan, agar Anda menolak semua keputusasaan dan ketakberdayaan Anda sendiri.

“Kita tak ‘kan pernah mendahului nasib!” teriak Arai

“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”

Andrea adalah seorang seniman kata-kata.”
—Nicola Horner, jurnalis di London, kontributor The Guardian, dan pemerhati kesusastraan Melayu

Novel kedua Hirata ini tidak kurang kocaknya dibandingkan Laskar Pelangi. Tuturannya mengalir, menyentuh, mencerahkan, menggelikan, membidik pusat kesadaran, dan jauh dari sifat menggurui. Selamat membaca.
—Ahmad Syafii Maarif, cendekiawan dan mantan ketua umum PP Muhammadiyah

Untuk sebuah karya sastra bergaya saintifik dengan penyampaian cerdas dan sangat menyentuh, nama Andrea Hirata sudah bisa jadi jaminan.
—Ahmad Tohari, penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Prolog Sang Pemimpi

Aku telah menghabiskan demikian banyak waktu untuk novel keduaku ini bukan untuk menulisnya, menulisnya tak lebih dari empat minggu, namun untuk mempertanyakan pada diriku sendiri tentang teori kurva belajar (learning curve) yang dengan sangat kurang ajar kureka-reka sendiri. Awalnya, aku ingin sekali, agar setiap buah pikiran yang ada dalam setiap paragraf yang kuhaturkan kepada Anda merupakan bagian dari suatu pencerahan karena aku telah mempelajari semua aspeknya dengan seksama. Namun rupanya aku ini bukan Truman Capote yang mampu melihat intelejensia pada setiap gelembung peristiwa lalu menulisnya dengan presisi yang mengagumkan.

Maka kurendahkan sedikit standard diatas dengan mencoba menisbikan kompleksitas suatu fenomena lalu menyajikannya secara ringan tapi imajinatif tanpa mengkorupsi esensi dari fenomena itu, ini juga tak sukses karena ternyata aku bukan Antonio Skarmeta.

Namun aku berkeras dengan teori learning curve versiku itu sebab aku begitu termotivasi untuk menjaga nilai-nilai yang menurutku seharusnya ada dalam sebuah buku: ilmu, semangat, integritas, keberanian bercita-cita, dan ajakan untuk tidak menyerah pada rintangan apapun. Klasik memang, tapi apa boleh buat, hanya hal-hal seperti itulah yang menarik minatku untuk menulis. Lagi pula aku telah menemukan daya tarik yang tak habis-habisnya dari gaya menulis secara realis. Motivasi jenis ini merupakan warisan pelajaran mutiara raja brana, harta berkilauan tak ternilai yang kudapat dari dua orang guruku di sebuah sekolah dasar yang hampir rubuh, dan akhirnya rubuh: Ibu Muslimah Hafsari dan Bapak Harfan Efendy Noor. Anda akan berkenalan dengan orang-orang gagah berani ini, para ksatria pendidikan yang terabaikan ini, jika Anda sempat membaca buku pertamaku Laskar Pelangi.

Akhirnya yang kulakukan adalah memetakan saja setiap titik dari kurva belajarku sejak mula lalu menulisnya dengan berusaha memperhitungkan secara teliti implikasi emosi dari setiap bab. Dramanya dimulai dari kelas satu SD sampai kelas tiga SMP, dan yang kudapat adalah Laskar Pelangi. Sebagai bagian dari tetralogi Laskar Pelangi maka novel Sang Pemimpi di tangan Anda ini bercerita tentang kelanjutan perjuangan tokoh-tokoh menarik yang ada didalamnya sejak mereka remaja SMA. Lalu lihatlah bagaimana dahsyatnya tenaga dari mimpi orang-orang muda itu sehingga membawa mereka pada penaklukan-penaklukan yang tak terbayangkan.

Sebagai seorang anak Melayu, mencerburkan diri ke dalam samudera sastra bagiku sama rasanya seperti menggoda sarang tawon.

“Bangsa Melayu adalah bangsa pujangga, pikirkan seratus kali dari pada tulisanmu hanya akan mencemari nama nenek moyangmu!” demikian pesan seorang kritikus.

Sehingga menulis memoar seperti Sang Pemimpi ini, dibawah jajahan insomnia yang parah, kata-kataku menjelma menjadi seekor hewan terirorial yang liar. Setengah mati aku memaksanya keluar dari liangnya untuk membebaskan diriku dari keakuan agar aku tak menjadi narsis, kelelahan aku menjaganya untuk tak melintasi teritori itu agar tak tercabik-cabik dilibas literatur populer yang perkasa mengangkangi industri buku dewasa ini, terhuyung-huyung aku berusaha tegak dalam teritoriku demi reputasi nenek-nenek moyangku, dan yang paling menggemaskan, belum tentu akan ada penerbit buku-yang merupakan bagian dari kaum kapitalis itu-yang berminat menerima karyaku yang tak sudi tunduk pada selera pasar ini.

Maka inilah kawan, dengan gagah berani, kupersembahkan padamu Sang Pemimpi. Terutama karena terdorong oleh daya juang tokoh-tokoh dalam cerita ini: Arai dan Ikal. Tak gentar mereka menibarkan mimpi-mimpinya di bulan ketika kaki-kaki muda mereka yang kumal dan telanjang masih terbenam di dermaga Magai, nun jauh di pulau terpencil Belitong sana, untuk menyambung hidup, untuk membiayai sendiri pendidikannya. Bagaimanakah nasib akan memperlakukan mereka?

Bagian yang paling menarik dalam riset saat menulis buku ini adalah aku menemukan ternyata perjalanan nasib seseorang tak ubahnya seperti ekstrapolasi potongan-potongan mozaik. Mozaik-mozaik itu terserak-serak dalam berbagai dimensi ruang dan waktu namun nanti perlahan-lahan, secara misterius, ia akan berkumpul membentuk eksistensi orang tersebut. Inspirasi terbesar dari pengetahuan tentang mozaik ini mulanya dicetuskan oleh guru kusesasteraan SMA saya yang hebat: Bapak Julian Ichsan Balia.

Dalam konteks dunia buku saat ini, menulis dan mungkin membaca buku seperti ini diperlukan keberanian. Namun jika anda seorang yang juga tak mudah surut menghadapi carut marut hidup ini, seperti Arai dan Ikal, senang dengan tantangan, menyukai letupan-letupan mara bahaya, harapanku adalah Anda dapat berdendang seirama genderang kata yang kutabuh, Anda dapat menari serancak imajinasi, melantun seindah gurindamku, tersenyum, tertawa, terharu, dan menangis bersama tokoh-tokoh yang jujur, para patriot kehidupan sehari-hari, di dalam buku ini. Sebaliknya bagi Anda yang berminat menulis buku semacam ini jangan biarkan pena Anda bertekuk lutut. Teruslah menulis, kabarkan kebenaran, walaupun Anda terancam bangkrut.

Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan dua novel lagi yang sedang kutulis secara simultan saat ini dengan judul Edensor dan Maryamah Karpov-novel terakhir ini tentang penghormatan pada kaum perempuan-merupakan tetralogi Laskar Pelangi yang kuanggap sebagai proyek seni pribadiku untuk Belitong, pulau kecil kelahiranku nun di serambi Laut China Selatan sana. Meletakkan budaya orang Melayu dan Tionghoa Melayu di Belitong sebagai platform untuk mendefinisikan tetralogi itu merupakan elemen yang paling menggairahkanku. Ingin rasanya mampu menulis buku-buku yang mampu menghidupkan karakter dan budaya, sayangnya aku ini bukan Alexander McCall Smith.

Keep fighting

Andrea Hirata

(http://sastrabelitong.multiply.com)

About these ads

20 responses to “Sang Pemimpi: Buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: