Category Archives: Puisi

Aku Ingin

* * *

AKU INGIN

by: Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

* * *

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

  Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

 Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

 Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

* * *


Renungan Cinta

Renungan Cinta  

 
 

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan.
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan…
Tapi ingatlah… melepaskan BUKAN akhir dari
dunia… melainkan awal suatu kehidupan baru…

Kebahagiaan ada untuk mereka yang
menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari… dan mereka yang telah mencoba…
Karena MEREKA-lah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

CINTA yang AGUNG adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya… Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia… Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata “Aku turut berbahagia untukmu…”

Apabila cinta tidak berhasil… BEBASKAN dirimu! Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI…
Ingatlah… bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya… tapi ketika cinta itu mati… kamu TIDAK perlu mati bersamanya…

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang… MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh… Entah bagaimana… dalam perjalanan kehidupan, kamu belajar tentang dirimu sendiri… dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada.

HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan-pilihan kehidupan yang telah kau buat.

TEMAN SEJATI… mengerti ketika kamu berkata “Aku lupa…”; Menunggu selamanya ketika kamu berkata ‘Tunggu sebentar”; Tetap tinggal
ketika kamu berkata ‘Tinggalkan aku sendiri”;
Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata “Bolehkah saya masuk?”

MENCINTAI… BUKAN-lah bagaimana kamu melupakan… melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN…
BUKAN-lah bagaimana kamu mendengarkan… melainkan bagaimana kamu MENGERTI…
BUKAN-lah apa yang kamu lihat… melainkan apa yang kamu RASAKAN…
BUKAN-lah bagaimana kamu melepaskan… melainkan bagaimana kamu BERTAHAN…

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati… Dibandingkan menangis tersedu-sedu.
Air mata yang keluar dapat dihapus… sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang idak akan pernah hilang…

Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang… Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah, kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia… dapat mencintai seseorang… LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri…

Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia… jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar-benar mencintai MELAINKAN… BERJUANGLAH demi cintamu… Itulah CINTA SEJATI.

Namun akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

Lebih baik menunggu orang yang kamuinginkan DARIPADA berjalan bersama orang ‘yang tersedia’; Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai DARIPADA orang yang berada di sekelilingmu; Lebih baik menunggu orang yang tepat karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang dengan hanya dengan ‘seseorang’.

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hatimu dan kadang kala, teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari…


Rindu

Puisi Manusia; “Rindu”


Alloh
jadikan setiap kerinduan yang membuat dada ini mendesah milik Engkau semata
Alloh
kerinduan yang lain itu menyiksa jiwa
Alloh
selamatkan hamba dari siksa menyala
Alloh
isilah tiap sela rongga dada hamba dengan kerinduan menyala akan menyebut asma Mu yang Mulia
Alloh
jadikan kami menjadi jiwa-jiwa perindu ridho Mu
Alloh
jadikan kami jiwa-jiwa perindu perjumpaan dengan Engkau dan rasul Mu
Ya Rahmaan Ya Rahiim
jangan biarkan jiwa ini lelah merindui Mu
Rabbbul ‘alamin
jangan biarkan jiwa ini lengah merindui Mu
Rabb pengabul do’a
jika kau tak mengabulkan do’a kami, maka siapakah yang bisa
Amiin Ya Rabbal ‘alamin


Pusi Manusia, ‘Satu Cinta’ (reposting)

Sampai tangan tak mampu lagi menulis
Sampai bibir bahkan susah berujar lirih
Saat mata mulai meredup bahkan padam
Saat kaki mulai lemah lumpuh
Bahkan nafas mulai terhimpit tersengal
Jangan wahai Rabb pujaanku
Jangan Engkau tarik nikmat mencintai-Mu
Penuhilah dengan cinta-Mu hingga dada ini tak ada ruang tersisa
Jangan hamba malas karena terbatas
Hembuskan semangat dalam qalbu tuk selalu berlari mengejar cinta-Mu
Dan kalaulah pinta ini tak lancang, sudilah Engkau menatap hamba yang hina
di hari yang berat itu dengan tatapan cinta-Mu yang sejuk

Pernahkah engkau mendengar kisah tentang seseorang yang buta namun ia berusaha dengan tekunnya menghafal Al Qur’an? Dan demi Alloh seingatku ini kisah nyata!!! (Ia belajar dengan mendengarkan kaset)
Pernahkah engkau melihat seseorang yang sudah lumpuh dan tetap berjuang untuk menegakkan Din ini? Dan demi Allah hal ini pun sebuah kisah nyata!!!
Saya juga pernah mendengar kisah tentang seorang wanita yang sakit-sakitan namun ia tetap berkarya dalam da’wah, Subhanallah betapa dahsyat kekuatan cinta, cinta sejati, cinta kepada Yang Menciptakan apa-apa yang kita cintai, cinta kepada Allah, Ar Rahman, Ar Rahim
Aku sungguh MALU…………..

http://humanforest.blogspot.com/2005/07/pusi-manusia-satu-cinta.html


Andai ku Tahu..(UNGU)

Andai ku tahu….
Kapan tiba ajalku…
Ku akan memohon tuhan tolong panjangkan umurku…

Andai ku tahu…
Kapan tiba masaku…
Ku akan memohon tuhan jangan kau ambil nyawaku…
Aku takut akan semua dosa dosaku…
Aku takut dosa yg terus membayangiku…

Andai ku tahu…
Malaikatmu kan menjemputku…
Izinkan aku mengucap kata taubat padamu…
Aku takut akan semua dosa dosaku…
Aku takut dosa yg terus membayangiku…

Ampuni aku dari segala dosa dosaku…
Ampuni aku menangis ku bertaubat padamu…
Aku manusia yang takut neraka…
Namun aku juga tak pantas disurga…

Andai ku tahu….
Kapan tiba ajalku…
Izinkan aku mengucap kata taubat padamu…
Aku takut akan semua dosa dosaku…
Aku takut dosa yg terus membayangiku…
Ampuni aku dari segala dosa dosaku…
Ampuni aku menangis ku bertaubat padamu…


Puisi Indah Dari RENDRA

PUISI INDAH DARI RENDRA
 
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh
Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
“aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

WS Rendra


Aku dan Jasad Matiku

Aku dan Jasad Matiku

Maafkan aku bunda…
yang tak mampu membalas sejuta kasihmu dengan tangan dan kakiku
Ampuni anandamu ayah…
yang tak lagi meratapi dunia dengan kedua matanya

Disini sejuk tanpa hangat kasih sayang kedua orangtuaku
Tak ada derita yang siap menerkamku dari segala penjuruh arah
Ujung bawah dan atasku begitu dekat, rapat
Kini hingga kiamat melebur dunia

Hanya tercium bau tanah, basah
Aku dan jasadku dibungkus kain putih, bersih
Hanya sesekali digigit mahkluk tanah

Ku rindu tamparan mataharai yang selalu kutantang lantang
Dulu aku rakus udara dunia
Aku juga rindu cemoohan takdir hari-hari kecilku
Tarianku selalu tampak indah walau ku tak bergerak
Nyanyianku angkuh disisi bumi,
selalu membuatnya menutup telinga sambil mengerang

Hitunganku melebihi angka-angka dunia
Bahasaku melebihi kosakata
Walau itu hanya dulu dan takkan melintas lagi

Kalian tahu…tanah yang diatas kini mendesak yang dibawahnya
Mereka berbisik…
“injak-injak anak malang itu”
Tertawaku mengejutkan mereka
Tertawa itu kecil, tapi bergema disela-sela tanah hitam basah.
Cacing-cacing disini mencicipi kulit, daging, serta otot manusiawiku
Do’a dari mulut-mulut mereka yang mengenal jasaku, membiusku dihimpitan pusara

Ingatanku berputar ketika otakku berhenti
Ketika jiwa tak mampu menikmati jasadnya lagi…
aku mati
Nyawaku termenung melihat Isroil turun
Inderaku tertunduk kaku, tak mampu menatap mata utusan Illahi
Mulutku tak berhasil mengusir diam

Sekarang…
Nisan yang bertulis namaku, mengusap kepalaku
Aku tidur dalam bumi
tak bergerak karena jasadku mati
Aku tak butuh lagi udara melintasi rongga hidungku
Karena aku dipanggil…mati

By: Andry.Ms@gmail.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.