Category Archives: Tips Sehat

10 QUICK PICK-ME-UPS!

1. 5-second de-stresser : Rub Your Earlobes Teknik akupresur dengan gerakan memijit-mijit daun telinga bagian bawah ini bermanfaat mengatasi sakit kepala dan nyeri pada otot leher. Hmmm…. enak!
2. 5-second energy booster : Down a Glass of Water Hati-hati, dehidrasi bisa membuat tubuh kita lebih lemas, bahkan sebelum kita sendiri merasa kita kehausan. Maka sempatkan 5 detik waktu di antara rutinitas sehari-hari untuk minum segelas air.

3. 30-second mood lifter : Laugh Out Loud Yang ini tak usah diragukan lagi, budaya kita mengenal jargon “tertawa itu sehat”. Humor dan tertawa akan meningkatkan mood kita dan bisa jadi ‘cheerleader’ yang baik saat kita mau melakukan aktivitas yang lebih membutuhkan energi.
Continue reading


WASPADALAH!!!!!!!!!!!!!!!

WASPADALAH!!!!!!!!!!!!!!!

 1. BEKAS BOTOL AQUA

 Mungkin sebagian dari kita mempunyai  kebiasaan  memakai ulang  botol plastik (Aqua, VIT, etc) dan menaruhnya di mobil atau di kantor. Kebiasaan  ini  tidak baik, karena bahan  plastic botol (disebut juga  sebagai polyethylene terephthalate or PET)  yang dipakai di botol2 ini  mengandung zat2 karsinogen (atau DEHA). Botol ini aman untuk dipakai 1-2 kali  saja, jika anda ingin  memakainya lebih lama, tidak boleh  lebih dari seminggu, dan harus ditaruh di tempat  yang  jauh dari matahari.  Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat karsinogen  itu bisa masuk ke air yang  kita minum. Lebih baik membeli botol air yang memang untuk dipakai ber-ulang2,  jangan memakai botol  plastik.

2.  PENGGEMAR SATE (Makanan yg di bakar/asap)

 Kalau Anda makan sate, jangan lupa makan  timun setelahnya. Karena  ketika kita makan sate sebetulnya  ikut juga karbon dari  hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker. Untuk itu kita punya  obatnya yaitu timun yang  disarankan untuk dimakan setelah makan sate. Karena sate mempunyai zat  Karsinogen  (penyebab kanker)  tetapi timun ternyata punya anti Karsinogen. Jadi jangan lupa makan timun setelah  makan sate.


 3. UDANG DAN VITAMIN C

 Jangan makan udang setelah Anda makan Vitamin  C.  Karena ini akan  menyebabkan keracunan dari racun Arsenik (As) yang merupakan proses reaksi dari  Udang dan Vitamin C di dalam  tubuh dan berakibat keracunan yang fatal dalam hitungan  jam.


 4. MIE  INSTAN

 Untuk para  penggemar mi instan, pastikan Anda punya selang waktu paling tidak 3 (tiga) hari  setelah Anda mengkonsumsi mi  instan, jika Anda kan mengkonsumsinya lagi, dari informasi  kedokteran,  ternyata  terdapat lilin yang melapisi mi instan. Itu sebabnya mengapa mi instan tidak lengket satu  sama lainnya ketika dimasak. Konsumsi mie instan setiap hari akan meningkatkan kemungkinan  seseorang terjangkiti  kanker. Seseorang, karena begitu sibuknya dalam berkarir tidak punya waktu lagi untuk  memasak, sehingga  diputuskannya untuk mengkonsumsi mi instan setiap hari. Akhirnya dia menderita kanker.  Dokternya mengatakan bahwa  hal ini disebabkan karena adanya lilin dalam mi instan tersebut. Dokter  tersebut mengatakan bahwa  tubuh kita memerlukan waktu lebih dari 2 (dua) hari untuk membersihkan lilin  tersebut.


 
5.  BAHAYA DIBALIK KEMASAN MAKANAN

 Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan  yang sehari-hari kita  konsumsi. Bagi sebagian besar orang, kemasan makanan hanya sekadar bungkus makanan  dan cenderung dianggap  sebagai “pelindung” makanan. Sebetulnya tidak tepat begitu, tergantung jenis  bahan kemasan. Sebaiknya  mulai sekarang Anda cermat memilik kemasan makanan. Kemasan pada makanan mempunyai  fungsi  kesehatan,  pengawetan, kemudahan, penyeragaman, promosi, dan informasi. Adabegitu banyak bahan  yang digunakan sebagai  pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan  makanan.  Tetapi tidak semua  bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya. Inilah ranking teratas bahan  kemasan makanan yang perlu  Anda waspadai :

 A.Kertas
 Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan  (kertas  koran dan majalah)  yang sering digunakan untuk membungkus makanan, terdeteksi mengandung timbal  (Pb) melebihi batas yang  ditentukan. Di dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran pernapasan  atau  pencernaan menuju  sistem peredaran darah dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain, seperti:  ginjal,  hati, otak, saraf  dan tulang. Keracunan timbal pada orang dewasa ditandai dengan gejala 3 P, yaitu  pallor  (pucat), pain (sakit)  & paralysis (kelumpuhan). Keracunan yang terjadipun bisa bersifat kronis  dan akut. Untuk terhindar  dari makanan yang terkontaminasi logam berat timbal, memang susah-susah gampang.  Banyak  makanan jajanan  seperti pisang goreng, tahu goreng dan tempegoreng yang  dibungkus dengan koran karena pengetahuan yang kurang dari si penjual, padahal  bahan yang panas dan  berlemak mempermudah berpindahnya  timbal makanan tsb. Sebagai usaha pencegahan,  taruhlah makanan jajanan  tersebut di atas piring.

 B.Styrofoam
 Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene  telah menjadi salah satu  pilihan yang paling populer dalam  bisnis pangan. Tetapi, riset terkini membuktikan  bahwa styrofoam diragukan  keamanannya. Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini menjadi pilihan  bisnis pangan karena mampu  mencegah kebocoran dan tetap  mempertahankan  bentuknya saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan panas  dan dingin tetapi tetap  nyaman dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas,  biaya  murah, lebih aman,  serta ringan. Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang  mengungkapkan bahwa residu  styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan endocrine  disrupter  (EDC), yaitu suatu  penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada sistem endokrinologi dan  reproduksi manusia akibat  bahan kimia karsinogen dalam makanan.

dari milis


Anti biotik 3x seumur hidup?

Semoga bermanfaat .
Perlu diketahui bahwa Anti biotik sebenarnya boleh dikonsumsi seseorang sepanjang hidupnya maximal hanya 3 X silahkan baca buku ” Total Wealthness” dari Dr. Pizorrno

“Apa memang penyakit batuk-pilek anak saya memerlukan antibiotik, dok?”
Seorang pasien yang kritis mencoba bertanya pada dokter yang ia kunjungi.
Dengan entengnya sang dokter menjawab “Lho, yang dokter itu siapa, kamu atau saya? Sudah, tak usah banyak tanya deh, yang penting anakmu sembuh kan?”

Bila mengalami kejadian seperti itu, pasien yang tidak paham kadang malah ‘memaksa’ dokter untuk memberikan antibiotik. “Kenapa anak saya tak diberi antibiotik, dok? Nanti kalau nggak sembuh-sembuh bagaimana?” Akhirnya, lantaran khawatir ‘ditinggal’ pasien-pasiennya, sang dokter pun meresepkan antibiotik yang sebenarnya tidak perlu.

KENYATAAN tersebut masih kerap terjadi di negara kita. Hanya segelintir dokter yang telah menganut konsep partnership atau kemitraan dengan pasiennya. Masih banyak dokter yang pelit waktu, untuk memberikan pennjelasan kepada pasien, atau malah menganggap pasien tidak perlu tahu apa-apa. Alhasil, dokter bahkan tidak senang dengan pasien yang kritis dan ceriwis. Padahal konsumen kesehatan memiliki hak untuk memeroleh penjelasan yang benar dan objektif. Lagipula di zaman modern seperti sekarang ini, sudah saatnya konsumen kesehatan bersifat proaktif. Informasi tentang kesehatan yang benar pun sangat mudah diperoleh melalui berbagai media.
Pasien yang kritis dan terpelajar, bisa saja datang dengan sebundel artikel yang diambilnya dari situs-situs kesehatan terpercaya di internet misalnya.

Di lain pihak, banyak pula dijumpai, pasien yang salah kaprah, atau pasien yang hanya manggut-manggut, segan bertanya dan pasrah saja dengan apa yang dikatakan dokter. Dokter Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, dari FKUI, dalam salah satu uraiannya yang berjudul ‘Commons Problem in Pediatrics’
mengatakan, ketidaktahuan pasien kadang malah dibiarkan saja oleh kalangan medis. Padahal tugas seorang dokter sesungguhnya tidak hanya mengobati pasien saja (kuratif), tapi juga memberikan pengetahuan yang benar, misalnya melalui penyuluhan kesehatan (promotif), mengupayakan pencegahan penyakit (preventif) dan juga mencegah kecacatan (rehabilitatif).

Kondisi-kondisi itulah yang mempersulit penggunaan antibiotik secara rasional di dunia kesehatan. Keberhasilan pemakaian obat yang rasional bukan hanya bergantung kepada dokter, tapi juga kepada pasien sebagai konsumen kesehatan dan industri obat-obatan. Pasien yang aktif menangani masalah kesehatannya sesungguhnya akan sangat membantu kinerja dokter untuk tetap memegang prinsip pengobatan rasional.

Kasus yang sering terjadi, contohnya adalah penggunaan antibiotik untuk penyakit flu atau batuk-pilek biasa (common cold) pada bayi dan anak-anak.
Penyakit ini 95 % disebabkan oleh virus, sehingga pemberian antibiotik tak ada gunanya. Antibiotik hanya diperlukan bagi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini sangat umum terjadi pada anak-anak.
Bahkan menurut penelitian, dalam setahun seorang anak bisa menderita flu atau common colds sebanyak 8 hingga 12 kali. Dan itu merupakan hal yang normal. Tentu saja ada pengecualian, yaitu bagi bayi-bayi yang berusia di bawah 3 bulan. Pada bayi-bayi ini, gejala flu atau common cold malah bisa berkembang dengan cepat menjadi penyakit yang serius seperti bronchiolitis atau pneumonia. Karena itu, untuk bayi berusia di bawah 3 bulan, penyakit batuk pilek biasa tetap perlu mendapat perhatian khusus.

Penyakit ini biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Gejala yang menyertai flu atau common cold seperti demam, bersin, batuk, pilek yang tak henti-henti memang kadang tampak mengkhawatirkan. Apalagi bila anak mengalami batuk tak henti-hentinya disertai muntah. Tak heran bila akhirnya orang tua membawa anaknya ke dokter karena cemas. Ketidaktahuan orang tua bahwa penyakit batuk-pilek biasa ini disebabkan oleh virus, sering membuat orang tua panik dan segera membawa anaknya ke dokter.
Penelitian di Amerika bahkan menyebutkan, setiap tahun terdapat 25 juta kunjungan ke dokter dan ke ruang gawat darurat karena common cold, yang sebetulnya tidak perlu. Parahnya, kecemasan tersebut kerap mengakibatkan orang tua meminta dokter memberikan antibiotik kepada anak-anaknya.

Bahaya Pemberian Antibiotik Irasional

Sebetulnya apa sih bahaya pemberian antibiotik yang tidak rasional ini?
Bila antibiotik digunakan terus-menerus dengan tidak rasional dan berlebihan, ternyata bakteri resisten malah akan semakin berkembang.
Alhasil, berbagai infeksi yang disebabkan bakteri-bakteri tersebut tak akan berespons lagi dengan obat sejenis. Penyakit-penyakit akan berlangsung lebih lama, risiko komplikasi bahkan kematian pun akan meningkat. Parahnya, bakteri bisa bermutasi sangat cepat melebihi kecepatan para peneliti yang berusaha menemukan antibiotik baru. Akibatnya, besar kemungkinan suatu hari nanti akan berkembang suatu jenis bakteri resisten yang sangat mematikan, namun tidak ada satupun obat yang dapat mematikannya. Sungguh menyeramkan bukan?

Dampak lainnya, lantaran penyakit berlangsung lebih lama, maka biaya yang dikeluarkan pun akan semakin meningkat. Menurut WHO (World Health Organization), peningkatan ini terutama dikeluarkan untuk ongkos tes laboratorium, biaya perawatan di rumah sakit, dan biaya kehilangan pendapatan akibat bolos kerja. Dan bila ternyata infeksi tidak lagi bisa diobati karena telah terjadi resistensi obat, maka dibutuhkan jenis antibiotik lain yang lebih paten. Antibiotik jenis ini biasanya harus dimasukkan lewat injeksi. Tentu saja harga antibiotik via injeksi lebih mahal ketimbang obat minum. Alhasil, biaya yang dikeluarkan pun kian membengkak.

Berkaitan dengan peyakit batuk pilek pada anak, Prof Iwan Darmansjah, ahli farmakologi dari FKUI, dalam salah satu tulisannya menyebutkan, selain mubazir, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek samping yang berbahaya. Kalau dikatakan akan mempercepat penyembuhan pun tidak, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol-membandingkan dengan plasebo, alias obat bohong-berulang kali sejak ditemukannya antibiotik di tahun 1950-1960-an. Hasilnya selalu sama sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya malah menurun.

Pengobatan flu atau common cold di rumah

American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan, tidak ada obat untuk kasus ini. Antibiotik tidak boleh diberikan karena tidak akan berefek apapun.
Perhatian dan kasih sayang dari orang tua lah yang merupakan obat terbaik.
Sehingga AAP menganjurkan agar orang tua cukup menciptakan kondisi yang paling nyaman bagi anak. Hidung mampet yang biasanya diderita anak akan menyebabkan anak bernafas lewat mulut. Akibatnya mulut dan tenggorokan anak menjadi kering. Untuk itu anak perlu diberi banyak jus buah-buahan dan cairan, sedikit tak apa asalkan sering. Dalam keadaan sakit, umumnya anak akan kehilangan nafsu makan. Walaupun hanya sedikit makanan yang masuk, tapi yakinkan bahwa kebutuhan makan mereka tercukupi.

Air garam steril bisa diberikan sebagai tetes hidung, agar ingus menjadi encer dan tidak lagi menyumbat jalan napas. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga akan meringankan keluhan flu pada anak. Cara lainnya, bila anak tak dapat tidur di malam hari karena hidung tersumbat, orangtua dapat memberikan tetes hidung
(breathy) untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung. AC ruangan pun perlu dimatikan. Kalau perlu setelah anak tidur, letakkan satu ember berisi air mendidih untuk menjaga agar udara ruangan tidak kering.

Langkah terbaik untuk pencegah tertularnya penyakit ini adalah dengan mencuci tangan sesering mungkin, dan sebisa mungkin menghindari penderita flu. Namun bila demam anak tak kunjung turun setelah lebih dari 3 hari (72 jam), orangtua perlu mengunjungi dokter. Selain itu bila terdapat gejala sesak napas, kuku dan bibir tampak biru, anak menjadi luar biasa rewel atau sangat mengantuk hingga tak bisa dibangunkan, orang tua juga harus segera membawa anaknya ke dokter.

Dari uraian di atas, jelas sudah bahwa flu atau common cold tak memerlukan pengobatan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak pada tempatnya memang menjadi salah satu kendala utama dalam penggunaan obat rasional di Indonesia. Permasalahan antibiotik ini sungguh runyam dan tak ada habisnya. Namun bila konsumen kesehatan menjadi proaktif, berusaha mencari informasi yang benar mengenai penyakit anaknya dan mulai banyak bertanya pada dokternya, mudah-mudahan akan membantu dokter agar tetap memegang prinsip pengobatan rasional.

Orang tua berhak mengajukan pertanyaan kepada dokter tentang penyakit yang diderita anak, apa penyebabnya, dan bagaimana tata laksananya. Pertanyaan seputar obat dan efek samping obat juga perlu diketahui agar anak tak jadi korban kesalahan pengobatan yang tidak rasional. Dokter yang informatif dan rela menyediakan waktu, demi memberikan pengetahuan yang benar kepada pasien pun sungguh diperlukan. Kerjasama antara pasien yang aktif dan dokter yang informatif semacam inilah yang setidaknya akan membantu keberhasilan pengobatan rasional di Indonesia. (Agnes Tri Harjaningrum, dr.)***

Sumber:
Pikiran Rakyat Online


Rahasia Tetap Awet Muda

7 Rahasia Tetap Awet Muda  
 
Banyak orang yang mengeluhkan keadaan kulit dan wajah mereka yang tampak lebih tua daripada umur sebenarnya. Untuk mengatasi masalah ini, ada 7 rahasia agar Anda tetap tampak awet muda:

1.Selalu merasa bahagia

Merasa bahagia adalah salah satu kunci utama agar tetap ter
lihat awet muda. Dalam setiap kegiatan, usahakan agar apa yang Anda lakukan sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Hindari stres, perasaan bersalah dan tertekan karena paksaan orang lain. Ingat, apa yang Anda rasakan akan tercermin pada wajah Anda. Jadi, orang yang sedang bahagia, wajahnya akan terlihat berseri-seri, santai dan lebih muda daripada usia sebenarnya.

2.Banyak bergerak

Berolahraga adalah cara agar awet muda. Lakukan joging, jalan cepat, bersepeda maupun berenang sekitar 30 menit setiap hari. Dengan olahraga, risiko terkena serangan jantung, osteoporosis, dan kanker pun akan mengecil. Olahraga teratur dapat menambah fleksibilitas otot, memperkuat tulang, serta mengurangi stres, karena sel-sel tubuh mendapat lebih banyak oksigen. Tidur Anda pun akan nyenyak.

3.Konsumsi vitamin C

Vitamin C bisa Anda peroleh dari buah-buahan segar (terutama jeruk), sayur-mayur berwarna hijau (brokoli dan lain-lain) atau suplemen vitamin C sebanyak 1000 mg perhari. Vitamin C terbukti bisa meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi risiko terkena kanker dan melindungi tubuh dari efek yang ditimbulkan oleh polusi. Di samping itu, perbanyak minum air putih. Meminum air putih 8 gelas per hari akan mengurangi stres, menjaga kesegaran kulit, serta memperlancar kerja organ tubuh.

4.Gunakan pelindung UV

Matahari adalah salah satu faktor utama penyebab penuaan dini. Oleh karena itu, gunakan selalu lotion pelembab secara teratur setiap hari, khususnya bila akan bepergian, agar kulit tetap segar, lembab dan tidak terbakar sinar matahari, terutama sinar ultra violet (UV).

5.Istirahat cukup

Manusia butuh sekurang-kurangnya 8 jam setiap hari untuk tidur. Istirahat cukup bermanfaat untuk menghindari terbentuknya kantung mata, kulit keriput dan wajah kusam.

6.Perhatikan penampilan

Penampilan dan tata rias wajah juga memegang peranan penting. Meski usia terus bertambah, tetap perhatikan jenis kosmetik yang Anda pakai. Gunakan make-up tipis untuk kesan natural dengan tetap memperhatikan kondisi dan jenis kulit Anda.

7.Optimis

Orang yang pesimis selalu tidak percaya diri, gampang putus asa, dan tak pernah memperhatikan penampilan, yang bisa berakibat depresi. Jadi, berusahalah menjadi orang yang optimis dalam segala hal, sebab ini akan membuat hidup Anda akan lebih sehat dan bahagia. (Tabloid Nova)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.