Anti biotik 3x seumur hidup?

on

Semoga bermanfaat .
Perlu diketahui bahwa Anti biotik sebenarnya boleh dikonsumsi seseorang sepanjang hidupnya maximal hanya 3 X silahkan baca buku ” Total Wealthness” dari Dr. Pizorrno

“Apa memang penyakit batuk-pilek anak saya memerlukan antibiotik, dok?”
Seorang pasien yang kritis mencoba bertanya pada dokter yang ia kunjungi.
Dengan entengnya sang dokter menjawab “Lho, yang dokter itu siapa, kamu atau saya? Sudah, tak usah banyak tanya deh, yang penting anakmu sembuh kan?”

Bila mengalami kejadian seperti itu, pasien yang tidak paham kadang malah ‘memaksa’ dokter untuk memberikan antibiotik. “Kenapa anak saya tak diberi antibiotik, dok? Nanti kalau nggak sembuh-sembuh bagaimana?” Akhirnya, lantaran khawatir ‘ditinggal’ pasien-pasiennya, sang dokter pun meresepkan antibiotik yang sebenarnya tidak perlu.

KENYATAAN tersebut masih kerap terjadi di negara kita. Hanya segelintir dokter yang telah menganut konsep partnership atau kemitraan dengan pasiennya. Masih banyak dokter yang pelit waktu, untuk memberikan pennjelasan kepada pasien, atau malah menganggap pasien tidak perlu tahu apa-apa. Alhasil, dokter bahkan tidak senang dengan pasien yang kritis dan ceriwis. Padahal konsumen kesehatan memiliki hak untuk memeroleh penjelasan yang benar dan objektif. Lagipula di zaman modern seperti sekarang ini, sudah saatnya konsumen kesehatan bersifat proaktif. Informasi tentang kesehatan yang benar pun sangat mudah diperoleh melalui berbagai media.
Pasien yang kritis dan terpelajar, bisa saja datang dengan sebundel artikel yang diambilnya dari situs-situs kesehatan terpercaya di internet misalnya.

Di lain pihak, banyak pula dijumpai, pasien yang salah kaprah, atau pasien yang hanya manggut-manggut, segan bertanya dan pasrah saja dengan apa yang dikatakan dokter. Dokter Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, dari FKUI, dalam salah satu uraiannya yang berjudul ‘Commons Problem in Pediatrics’
mengatakan, ketidaktahuan pasien kadang malah dibiarkan saja oleh kalangan medis. Padahal tugas seorang dokter sesungguhnya tidak hanya mengobati pasien saja (kuratif), tapi juga memberikan pengetahuan yang benar, misalnya melalui penyuluhan kesehatan (promotif), mengupayakan pencegahan penyakit (preventif) dan juga mencegah kecacatan (rehabilitatif).

Kondisi-kondisi itulah yang mempersulit penggunaan antibiotik secara rasional di dunia kesehatan. Keberhasilan pemakaian obat yang rasional bukan hanya bergantung kepada dokter, tapi juga kepada pasien sebagai konsumen kesehatan dan industri obat-obatan. Pasien yang aktif menangani masalah kesehatannya sesungguhnya akan sangat membantu kinerja dokter untuk tetap memegang prinsip pengobatan rasional.

Kasus yang sering terjadi, contohnya adalah penggunaan antibiotik untuk penyakit flu atau batuk-pilek biasa (common cold) pada bayi dan anak-anak.
Penyakit ini 95 % disebabkan oleh virus, sehingga pemberian antibiotik tak ada gunanya. Antibiotik hanya diperlukan bagi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini sangat umum terjadi pada anak-anak.
Bahkan menurut penelitian, dalam setahun seorang anak bisa menderita flu atau common colds sebanyak 8 hingga 12 kali. Dan itu merupakan hal yang normal. Tentu saja ada pengecualian, yaitu bagi bayi-bayi yang berusia di bawah 3 bulan. Pada bayi-bayi ini, gejala flu atau common cold malah bisa berkembang dengan cepat menjadi penyakit yang serius seperti bronchiolitis atau pneumonia. Karena itu, untuk bayi berusia di bawah 3 bulan, penyakit batuk pilek biasa tetap perlu mendapat perhatian khusus.

Penyakit ini biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Gejala yang menyertai flu atau common cold seperti demam, bersin, batuk, pilek yang tak henti-henti memang kadang tampak mengkhawatirkan. Apalagi bila anak mengalami batuk tak henti-hentinya disertai muntah. Tak heran bila akhirnya orang tua membawa anaknya ke dokter karena cemas. Ketidaktahuan orang tua bahwa penyakit batuk-pilek biasa ini disebabkan oleh virus, sering membuat orang tua panik dan segera membawa anaknya ke dokter.
Penelitian di Amerika bahkan menyebutkan, setiap tahun terdapat 25 juta kunjungan ke dokter dan ke ruang gawat darurat karena common cold, yang sebetulnya tidak perlu. Parahnya, kecemasan tersebut kerap mengakibatkan orang tua meminta dokter memberikan antibiotik kepada anak-anaknya.

Bahaya Pemberian Antibiotik Irasional

Sebetulnya apa sih bahaya pemberian antibiotik yang tidak rasional ini?
Bila antibiotik digunakan terus-menerus dengan tidak rasional dan berlebihan, ternyata bakteri resisten malah akan semakin berkembang.
Alhasil, berbagai infeksi yang disebabkan bakteri-bakteri tersebut tak akan berespons lagi dengan obat sejenis. Penyakit-penyakit akan berlangsung lebih lama, risiko komplikasi bahkan kematian pun akan meningkat. Parahnya, bakteri bisa bermutasi sangat cepat melebihi kecepatan para peneliti yang berusaha menemukan antibiotik baru. Akibatnya, besar kemungkinan suatu hari nanti akan berkembang suatu jenis bakteri resisten yang sangat mematikan, namun tidak ada satupun obat yang dapat mematikannya. Sungguh menyeramkan bukan?

Dampak lainnya, lantaran penyakit berlangsung lebih lama, maka biaya yang dikeluarkan pun akan semakin meningkat. Menurut WHO (World Health Organization), peningkatan ini terutama dikeluarkan untuk ongkos tes laboratorium, biaya perawatan di rumah sakit, dan biaya kehilangan pendapatan akibat bolos kerja. Dan bila ternyata infeksi tidak lagi bisa diobati karena telah terjadi resistensi obat, maka dibutuhkan jenis antibiotik lain yang lebih paten. Antibiotik jenis ini biasanya harus dimasukkan lewat injeksi. Tentu saja harga antibiotik via injeksi lebih mahal ketimbang obat minum. Alhasil, biaya yang dikeluarkan pun kian membengkak.

Berkaitan dengan peyakit batuk pilek pada anak, Prof Iwan Darmansjah, ahli farmakologi dari FKUI, dalam salah satu tulisannya menyebutkan, selain mubazir, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek samping yang berbahaya. Kalau dikatakan akan mempercepat penyembuhan pun tidak, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol-membandingkan dengan plasebo, alias obat bohong-berulang kali sejak ditemukannya antibiotik di tahun 1950-1960-an. Hasilnya selalu sama sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya malah menurun.

Pengobatan flu atau common cold di rumah

American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan, tidak ada obat untuk kasus ini. Antibiotik tidak boleh diberikan karena tidak akan berefek apapun.
Perhatian dan kasih sayang dari orang tua lah yang merupakan obat terbaik.
Sehingga AAP menganjurkan agar orang tua cukup menciptakan kondisi yang paling nyaman bagi anak. Hidung mampet yang biasanya diderita anak akan menyebabkan anak bernafas lewat mulut. Akibatnya mulut dan tenggorokan anak menjadi kering. Untuk itu anak perlu diberi banyak jus buah-buahan dan cairan, sedikit tak apa asalkan sering. Dalam keadaan sakit, umumnya anak akan kehilangan nafsu makan. Walaupun hanya sedikit makanan yang masuk, tapi yakinkan bahwa kebutuhan makan mereka tercukupi.

Air garam steril bisa diberikan sebagai tetes hidung, agar ingus menjadi encer dan tidak lagi menyumbat jalan napas. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga akan meringankan keluhan flu pada anak. Cara lainnya, bila anak tak dapat tidur di malam hari karena hidung tersumbat, orangtua dapat memberikan tetes hidung
(breathy) untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung. AC ruangan pun perlu dimatikan. Kalau perlu setelah anak tidur, letakkan satu ember berisi air mendidih untuk menjaga agar udara ruangan tidak kering.

Langkah terbaik untuk pencegah tertularnya penyakit ini adalah dengan mencuci tangan sesering mungkin, dan sebisa mungkin menghindari penderita flu. Namun bila demam anak tak kunjung turun setelah lebih dari 3 hari (72 jam), orangtua perlu mengunjungi dokter. Selain itu bila terdapat gejala sesak napas, kuku dan bibir tampak biru, anak menjadi luar biasa rewel atau sangat mengantuk hingga tak bisa dibangunkan, orang tua juga harus segera membawa anaknya ke dokter.

Dari uraian di atas, jelas sudah bahwa flu atau common cold tak memerlukan pengobatan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak pada tempatnya memang menjadi salah satu kendala utama dalam penggunaan obat rasional di Indonesia. Permasalahan antibiotik ini sungguh runyam dan tak ada habisnya. Namun bila konsumen kesehatan menjadi proaktif, berusaha mencari informasi yang benar mengenai penyakit anaknya dan mulai banyak bertanya pada dokternya, mudah-mudahan akan membantu dokter agar tetap memegang prinsip pengobatan rasional.

Orang tua berhak mengajukan pertanyaan kepada dokter tentang penyakit yang diderita anak, apa penyebabnya, dan bagaimana tata laksananya. Pertanyaan seputar obat dan efek samping obat juga perlu diketahui agar anak tak jadi korban kesalahan pengobatan yang tidak rasional. Dokter yang informatif dan rela menyediakan waktu, demi memberikan pengetahuan yang benar kepada pasien pun sungguh diperlukan. Kerjasama antara pasien yang aktif dan dokter yang informatif semacam inilah yang setidaknya akan membantu keberhasilan pengobatan rasional di Indonesia. (Agnes Tri Harjaningrum, dr.)***

Sumber:
Pikiran Rakyat Online

8 Comments Add yours

  1. adhi says:

    wah uda artikelnya sebaiknya di review nih soalnya banyak yang bertentangan sama ilmu kedokteran. kalo kita cuma melihat beberapa percobaan saja ga bisa dijadiin patokan. antibiotik aman asal sesuai dengan anjuran dokter. dan kita terkena bakteri/virus patogen tidak 1 atau 2kali seumur hidup jadi sah-sah saja minum antibiotik berkali-kali. oya sekedar informasi, madu yang diminum nabi Muhammad tiap pagi dan sore juga mengandung bahan antibiotik:)

  2. Budi says:

    waduh, saya jadi bingung ni. pertama saya baca artikel tentang penggunaan antibiotk, dan saya merasa harus membenahi tentang penggunaan antibiotik. karna saya punya 3 anak yg selalu batuk pilek seperti cerita dr. Tri di atas, saya mungkin orang tua yg selalu kritis dan ceriwis, tp aneh nya dokter anak2 selalu memberikan penjelasan yg easy dan kadang2 hanya jawab seperlu nya saja. semenjak anak2 sakit dokter nya selalu memberikan antibiotik. sebetul nya saya sudah berpikir takut sekali membahaya kan sistem imun nya anak2, dan sekarang saya membaca artikel2 di internet, menemukan bacaan2 seperti ini. apakah ada solusi lain supaya saya bisa pegang untuk kedepan nya, karna saya jg baca responses dari mr.adhi seperti di atas. yang akhir nya sekarang agak sedikit membingungkan saya. terima kasi

  3. dina aida says:

    kalau anak pertamaku sakit pasti dikasih antibiotik sampai 2kali,pertama dr anak memberi dosis rendah seminggu kemudian msh sakit baru dikasih dosis tinggi, itu berlangsung selama 11 thn skrg jarang sakit.Belajar dr pengalaman anak kedua tdk pernah pakai antibiotik kecuali kepepet.Selama 7 th mungkin hanya 6x kena antibiotik.

  4. Adiet says:

    This Article is good for e-learning education system, congratulations you have a prize from me, and that will be sent to you in 5 days. Insyaallah.

  5. rumahherbalku says:

    Yang jelas, tubuh sudah punya keseimbangan sendiri dalam menentukan jumlah bakteri baik dan bakteri jahat. Begitupula dalam hal virus dan antivirus.

    Sedangkan antibiotik, tentunya membunuh bakteri/virus tanpa bisa pilih-2, yang baik, yang jelek, selama ada peradangan, baik karena batuk, pilek, luka, gigi berlubang, antibiotik beraksi.

    Akibat paling sering ya, konstipasi (karena antibiotik menyerang bakteri baik di pencernaan) atau malah berasa kembung ( akibat antibiotik menyerang bakteri baik di lambung) dan akhirnya resep bertambah panjang untuk mengcover efek samping si antibiotik tadi, he..he…

    Hati-hati saja, deh… Ttap waspada dan kalo bisa biarkan tubuh memproduksi sel-2 imun sendiri. O, ya… bisa dibantu Meniran… itu lho, tanaman yang udah dijadikan fitifarmaka dengan merk Stimuno… far more better, dah!

    rumahherbalku.wordpress.com

  6. kaka says:

    saya bingung dngn bnyk nya artikel bahaya anti biotik, sbener nya sangat masuk akal..
    tp pendapat pa adhi jg kyk nya masuk akal, seperi propolis mengandung antibiotik yg alami,, dan bayangkan seberapa besar resiko nya kalo d konsumsi setiap hari.

  7. bin says:

    antibiotik.cara aturan pakai.dokter.konsumen.suka bikin bingung.soalnya banyak artikel simpang siur di media. Trus, dokter yang kooperatif sama pasien juga amat sangat minim sekali.

  8. saya sepakat dengan penulis, penggunaan antibiotik untuk menangani penyakit saat ini sudah tidak efektif lagi mengingat virus dan bakteri yang terus berkembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s