Cara Rakyat Bertemu Wakilnya

on

Menarik juga cara yang dilakukan wakil rakyat di Singapura ini.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Seorang ibu, sebut saja Susi (36 tahun) terlihat begitu kuyu. Wajahnya muram, menyiratkan sedang diterpa masalah. Mengantongi nomor urut 21, dia sedang duduk antre menunggu giliran dipanggil. Begitu nomornya dipanggil, Susi langsung masuk ke dalam bilik-6. Di situ dia diterima oleh seseorang, kemudian data-data tentang dirinya dicatat. Tak lebih dari tiga menit, dia langsung membeberkan persolan yang sedang membelitnya.

Diceritakan bahwa dia sudah bercerai dengan suaminya. Dua anaknya hidup bersamanya dan tinggal di sebuah apartemen. Tapi, dengan gaji sebagai seorang pegawai rendahan sekitar Rp 7 juta, cukup berat baginya untuk hidup dengan dua anak. Karena itu dia minta dibantu untuk memperoleh apartemen dengan harga sewa yang murah.

Lain lagi dengan Chan Kim. Sejak kecil dia diuji dengan kondisi tangan tak sempurna, sehingga dia tidak bisa bekerja. Saat ini dia hanya hidup dari pemberian pemerintah sebesar Rp 1,6 jutaan. Dia minta dibantu agar bisa tinggal bersama bibinya yang sudah berkeluarga, karena dia merasa tidak sanggup lagi menyewa apartemen.

Siapa Susi dan Chan Kim itu? Dan di mana dia mengeluhkan keadaan tersebut? Peristiwa itu terjadi di Singapura. Susi adalah orang Indonesia dan sudah 15 tahun tinggal di Singapura menjadi permanent resident. Sedangkan Chan Kim yang usianya hampir setara Susi, warga Singapura asli yang sulit memperoleh pekerjaan karena ketidaksempurnaannya.

Mereka mengeluhkan keadaan yang dialami langsung kepada wakil rakyat mereka atau anggota parlemen (Member of Parliament/MP) Singapura. Ada yang langsung diwawancarai anggota parlemen, ada yang lewat relawan yang dengan senang hati melayani. Tapi, semua diperlakukan sama, keluhan-keluhan itu akan diselesaikan dengan segera oleh MP.

Memang di Singapura, setiap anggota parlemen dari partai yang berkuasa (Peoples Action Party/PAP) diwajibkan setiap pekan sekali untuk bertemu dengan rakyat yang juga konstituennya. Program itu mereka namakan Meet The People Session (sesi pertemuan dengan rakyat).

Sejarahnya, program ini adalah untuk melawan masuknya komunis di Singapura pada awal 1960-an. Harapannya, dengan pendekatan langsung dengan rakyat, maka infiltrasi komunis ke masyarakat bisa terbendung. Ternyata program ini efektif dan berjalan dengan baik. Akhirnya program inipun terus dilakukan sampai sekarang.

Umumnya, sesi tersebut dilakukan di sebuah ruang di apartemen. Ruangan itu khusus disewa oleh PAP untuk aktivitas kepartaian yang terkait dengan masyarakat setempat. Para anggota parlemen itu tidak menuntut tambahan dana untuk pertemuan dengan konstituen. Semua dilakukan dengan berlandaskan keinginan untuk menampung dan mendengarkan suara rakyat.

Sesi temu masyarakat ini merupakan ajang interaksi anggota parlemen dengan rakyat. Mereka mendengar keinginan masyarakat, mendengar keluhan masyarakat, mendengar nasib getir masyarakat, semua secara langsung dari rakyat. Bukan itu saja, para anggota parlemen juga menyelesaikan setiap masalah yang ada, bukan cuma menampung dan menampung.

Konstituen yang perlu dibantu akan diberi bantuan semaksimal mungkin. Tapi ada catatan, bantuan yang diberikan itu tidak pernah berupa uang, sehingga tidak ada money politics di sini, termasuk bila menjelang pemilihan umum. Bantuan yang diberikan lebih banyak berupa bantuan lobi ke lembaga yang terkait dengan keluhan.

Beberapa masalah yang dikeluhkan di antaranya adalah masalah perumahan, masalah pekerjaan, masalah keuangan misalnya tidak bisa membayar listrik atau membayar anak sekolah, masalah hukum, bahkan juga masalah perselisihan antartetangga. “Suatu kali ada yang terlilit masalah utang di bank, dia minta agar cicilan bisa diperingan. Kami kemudian negosiasikan ke bank itu, sampai akhirnya berhasil,” kata Hawazi Daipi, MP dari Marsiling, sebuah distrik di bagian utara berbatasan dengan Johor Malaysia.

Menurut Hawazi, setiap sesi pertemuan, ada 70 sampai 80 warga yang mengadukan masalahnya. Dengan mulai dibuka pukul 20.00 waktu setempat, sesi pertemuan itu bisa berlangsung sampai tengah malam. Terkadang Hawazi membuat 10-20 surat untuk lembaga atau instansi yang terkait dengan permasalahan yang dikeluhkan rakyatnya.

Dengan begitu banyaknya masyarakat yang mengadukan permasalahan, tentu anggota parlemen tidak bisa sendirian, karenanya mereka dibantu oleh para relawan. “Saya memiliki 60 relawan yang dibagi menjadi empat tim yang dipimpin oleh seorang relawan yang sudah berpengalaman,” ujar dia. Mereka yang jadi relawan adalah warga setempat yang merasa tergugah untuk berbuat sesuatu pada masyarakatnya.

Mereka secara sukarela membantu anggota parlemen untuk memberikan yang terbaik pada rakyatnya. Relawan itu tentu tanpa bayaran. “Saya lahir dan besar di Marsiling, saya ingin berbuat banyak untuk masyarakat, karenanya saya menjadi relawan di sini,” kata Dr Maszenan Abdul Majid, seorang dosen di Nanyang.

Biasanya relawan ini juga terkait dengan organisasi akar rumput masyarakat. Setiap wilayah memiliki organisasi akar rumput yang beranggotakan masyarakat setempat dengan anggota parlemen sebagai penasihatnya. Mereka memiliki berbagai kegiatan, termasuk klub-klub komunitas. Organisasi ini memang dibentuk untuk merekatkan hubungan antarmasyarakat, sekaligus juga rakyat dengan anggota parlemen.

Dikatakan Hawazi, anggota parleman harus selalu turun ke rakyat untuk mengetahui keinginan rakyatnya. Dengan melakukan pertemuan secara rutin dan mendengarkan suara rakyat, katanya, otomatis, akan makin mendekatkan hubungan antara anggota parlemen dan konstituennya, sekaligus terbangun kepercayaan.

Di Singapura, beberapa anggota parlemen sekaligus merangkap sebagai menteri. Jadi, sesibuk apa pun seorang menteri dia tetap wajib menyempatkan diri bertemu dengan masyarakat yang memilihnya. Tak terkecuali Menteri Luar Negeri George Yeo yang sibuk luar biasa, terutama setelah ada kasus ekspor pasir dan perbatasan dengan Indonesia. Kita kadang tidak suka pada Singapura, karena sepertinya mereka melindungi koruptor yang telah menggaruk harta rakyat Indonesia. Tapi, selalu ada yang bisa dipelajari dari Singapura. n anif punto utomo

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=288391&kat_id=3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s