Membudayakan Rasa Malu

on

Penulis : Asep Teja Setia Somantri, S.S.

KotaSantri.com : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kehormatannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya.” (QS. An-Nuur [24] : 30-31).

Menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, malu adalah suatu sifat yang selalu memotivasi seseorang untuk meninggalkan perilaku tercela serta memenuhi hak Allah SWT dan hak orang lain (Madarijus Salikin, jilid II : 260). Rasa malu (al-haya’), juga merupakan suatu sifat yang alami dalam diri manusia, yang menjadikannya merasa tidak enak ketika dia melakukan perbuatan jelek dan haram. Dia dapat mencegah dirinya untuk tidak melakukan perbuatan terlarang, karena adanya perasaan yang alami dan fitrah itu.

Malu di dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi, yaitu termasuk bagian dari iman. Sehingga kadar keimanan seseorang dapat diukur dengan melihat seberapa kuat keteguhannya dalam memegang etika malu. Semakin kuat rasa malu seseorang untuk tidak melakukan perbuatan yang kurang baik, apalagi perbuatan haram, maka semakin kuat pula keimanannya.

Perasaan malu sesungguhnya akan pula menjaga batas-batas kehormatan asasi manusia dan sebagai pagar untuk tidak melangkah ke lahan yang haram. Rasa malu ini pun ibarat penuntun bagi yang tidak melihat yang akan menuntunnya untuk senantiasa berada di jalan yang lurus. Ia amat efektif untuk mencegah kerusakan tatanan moral individu dan masyarakat. Bahkan, akan lebih efektif dibanding dengan berderetnya beragam peraturan dan pengawas, namun bukan berarti peraturan dan pengawas itu tidak efektif.

Tatanan hidup manusia di alam ini dan kebahagiaannya yang abadi di alam akhirat kelak sangat tergantung kepada rasa malu yang ada pada dirinya, karena malu dan keimanan ibarat dua sisi dari mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Namun sayang, banyak manusia saat ini tidak peduli lagi dengan rasa malu. Kaum wanita tidak lagi malu terhadap kesusilaan, dan kaum laki-laki tidak lagi merasa malu berbuat kejahatan. Padahal Allah SWT mengatur rasa malu pada perempuan berlipat-lipat lebih besar ketimbang rasa malu yang dimiliki oleh laki-laki. Sehingga, kejahatan dari hari ke hari semakin bertambah banyak, menjadi bukti kebenaran atas apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Kiamat tidak akan terjadi sampai rasa malu telah lenyap dari anak-anak dan perempuan.”

Dalam buku tafsir Manhaj Ash-Shadiqin, disebutkan bahwa Sayyid ‘Ali bin Al-Husain Zainal ‘Abidin mengatakan bahwa ketika Yusuf AS digiring oleh Zulaikha ke ruangannya yang telah dihiasi kaca berwarna-warni dan lukisan yang membangkitkan birahi, kemudian dia menutup pintunya. Di kamar itu terdapat sebuah patung yang ditutupi oleh selembar kain di atasnya. Yusuf AS bertanya kepada Zulaikha mengapa dia menutup kepala patung itu. Zulaikha menjawab, “Agar dia tidak melihat apa yang akan kita perbuat, sehingga kita merasa malu kepadanya.” Yusuf AS kemudian berkata, “Aku lebih merasa malu kepada Allah Yang Maha Kuasa.” Setelah itu, Yusuf AS melarikan diri dari sisi Zulaikha.

Kisah tersebut mengisyaratkan betapa rasa malu yang tinggi atas Nabi Yusuf AS telah demikian efektif menghindarkannya dari perbuatan perzinahan. Namun, apabila melihat tingkat kasus aborsi tahun-tahun lalu sebesar kurang lebih 2 juta kasus, yang berarti mengindikasikan pula tingginya tingkat perzinahan yang terjadi di negeri ini, betapa mirisnya hati kita bahwa ternyata banyak anggota masyarakat yang sudah minim rasa malunya. Padahal Allah SWT telah jelas-jelas menancapkan salah satu pondasi rasa malu itu seperti yang terdapat dalam terjemah Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 30 dan 31 di atas.

Berkata Salman Alfarisi, “Sesungguhnya apabila Allah menghendaki kehancuran seorang hamba, maka Dia cabut rasa malu dari dirinya. Jika rasa malu telah tercabut dari dirinya, maka ia tidak akan menemui Allah kecuali dalam keadaan terlaknat dan dimurkai.”

Untuk itu, kita perlu memperhatikan hal ini. Setiap individu memegang tanggung jawab moral masing-masing, terlebih bagi kalangan yang memiliki akses untuk mendidik masyarakat dan memberi keteladanan terhadap publik. Seperti pendidik, ulama, aparat pemerintah, para pemimpin, aparat keamanan, dan yang lainnya. Setiap individu mesti melangkah dengan senantiasa memperhatikan rasa malu. Setiap terdapat gejala-gejala yang bertentangan dengan prinsip malu ini, hendaknya semua pihak peduli dengan menjalankan upaya saling menasehati di jalan kebenaran dan kesabaran (tawa shaubil haqqi watawa shaubishabri).

Yang tidak kalah pentingnya adalah penghargaan yang mesti diberikan bagi siapa saja yang memiliki kepedulian yang tinggi dengan prinsip rasa malu ini. Oleh karena dengan minimnya rasa malu, maka sinyalir dari Rasulullah SAW berikut ini semakin luas terbukti. Abu Mas’ud Uqbah Al-Anshari berkata, Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari perkataan kenabian yang pertama adalah bila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu.” (HR. Bukhari). [BKS-64]
http://kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Detail&sid=403

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s