Mencari Akhir yang Istimewa

on

assalaamu’alaikum wr. wb.

Alkisah, ada seorang ulama yang memiliki hewan peliharaan kesayangan berupa seekor burung beo. Namanya juga ulama, tentu yang diajarinya adalah kalimat-kalimat yang mengandung kebaikan, termasuk kepada burung beonya itu. Burung itu telah membuat kagum banyak orang sekaligus membuat suasana rumah menjadi demikian teduh dengan kalimat-kalimat semacam “assalaamu’alaikum”, “subhaanallaah”, atau “allaahu akbar”. Demikianlah si beo tidak mampu berkata-kata kecuali yang baik-baik saja, sebagaimana yang telah diajarkan kepadanya oleh sang majikan.

Pada suatu hari, terjadilah kejadian naas itu. Beo itu diserang oleh seekor kucing garong yang sedang kelaparan sangat. Sayang sang pemilik Beo tidak sempat menghentikan serangan si kucing, dan ia hanya sempat menyaksikan Beonya meronta-ronta dari kejauhan.

Yang lebih naas lagi, setelah bertahun-tahun diajarkan untuk mengucapkan kata-kata yang baik, namun tak satu pun diantaranya keluar dari paruh sang beo saat itu. Yang muncul hanyalah suara khas burung ketika lehernya sedang dicengkeram oleh rahang bangsa kucing yang terkenal kuat itu. “Keaaaak…!!! Keaaak….!!! Keaaak…!!!”

Orang tua itu pun terduduk lemas sambil menangis. Bukan menangisi sang beo, karena beo bukanlah unggas yang harganya selangit bagaikan perkutut juara. Beo bisa dibeli lagi, tapi tak ada yang bisa mengembalikan pemandangan beberapa detik ketika sang beo meregang nyawa dan tak mampu berkata-kata kecuali sekedar teriakan yang buruk. Ternyata, walaupun tidak mengenal kata-kata selain yang baik-baik saja, beo tetaplah beo. Ketika maut datang, ia kembali pada bahasa asalnya.

* * * * * * *

Kisah di atas sudah beredar cukup luas di milis-milis dengan berbagai versi, dan nampaknya sudah cukup sulit untuk merunut siapa penulis sebenarnya. Bagaimana pun, kisah itu mengandung hikmah yang sangat penting untuk kita pikirkan. Kita harus belajar dari sang beo agar tidak ikut-ikutan menjadi beo, dan juga agar tidak meremehkan waktu sakaratul maut yang pasti akan datang dan merasa cukup dengan keadaan kita kini.

Ternyata beo yang hanya mengenal kata-kata kebaikan tidak mampu mengucap sekedar “laa ilaaha illallaah” atau setidaknya sekedar nama-Nya saja ketika menjumpai maut. Bagaimana dengan kita? Kosa kata yang telah kita kuasai jauh lebih luas daripada Beo mana pun di dunia ini. Akankah kita teringat dengan kalimat-kalimat yang baik ketika maut datang?

Tidak usahlah terlalu jauh membayangkan sakaratul maut (yang memang takkan mungkin bisa dibayangkan oleh manusia yang belum pernah menjumpainya). Ketika kaki terantuk batu, kata-kata macam apakah yang terlontar spontan? Apakah “astaghfirullaah”, “maasyaa Allaah”, atau jangan-jangan “Aduh!”, “Sialan!” atau bahkan “Anjing!!!” ?

Allah menegur saya dengan keras pekan kemarin, karena ada dua peristiwa yang tidak dapat saya bagi di sini, namun membawa ingatan saya kembali pada dua hal : kisah tentang si burung beo tadi dan awal surah Asy-Syams yang kebetulan sedang saya hapalkan pekan kemarin. Beginilah terjemahan awal surah Asy-Syams yang saya maksud :

Demi siang dan cahayanya di pagi hari,
dan bulan apabila mengiringinya,
dan siang apabila menampakkannya,
dan malam apabila menutupinya,
dan langit serta pembinaannya,
dan bumi serta penghamparannya,
dan jiwa serta penyempurnaannya,

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kejahatan dan ketaqwaannya,
sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikannya,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya,

Bagian yang saya tebalkan adalah bagian yang paling menarik perhatian.

Sungguh menarik betapa Allah banyak bersumpah dengan ciptaan-Nya di awal surah ini sebelum mencapai pada inti pembicaraan. Tujuh ayat berbentuk sumpah, sebelum Allah menjelaskan bahwa jiwa manusia itu memang sengaja diberi pilihan untuk memilih satu diantara dua jalan. Masing-masing diantara kita memiliki pilihan untuk melakukan kejahatan atau menjadi orang yang bertaqwa.

Tidak ada manusia yang ‘terpaksa’ menjadi jahat, tidak ada pula manusia yang memang ‘sudah dari sononya’ baik. Semua memiliki pilihan, dan ilham kejahatan dan ketaqwaan itu telah sama-sama mampir di hati kita. Sekarang, pilihan ada di tangan kita.

Manusia tidak berhenti diberikan pilihan selama nyawanya masih ada. Orang yang hidup sekian lama sebagai orang saleh belum tentu akan mati sebagai Muslim yang baik. Demikian pula bajingan tengik yang paling Anda benci sekalipun belum tentu tidak sempat bertaubat menjelang matinya. Umar bin Khattab ra. yang tadinya penjahat bisa berubah menjadi Amirul Mu’minin yang paling lembut hatinya, sedangkan sahabat Rasulullah saw. ada pula yang bunuh diri di medan jihad karena tak merasa mampu menahan penderitaan.

Jangan merasa aman jika sejauh ini Anda telah membuat pilihan yang benar (walaupun seberapa benarnya itu sulit diukur secara objektif). Bisa jadi di akhir hayat nanti Anda akan membuat pilihan yang salah dan teramat fatal sehingga kebaikan Anda di masa lalu terhapus begitu saja. Teruslah waspada dan pahamilah bahwa hidup ini adalah serangkaian pilihan tanpa henti. Buatlah pilihan yang benar, dan hiduplah bagaikan tidak ada hari esok. Kerjakan segala kebaikan yang bisa Anda kerjakan hari ini, bukan besok! Tinggalkan segala keburukan yang dapat Anda tinggalkan sekarang juga, bukan nanti!

Hiduplah bagaikan tidak ada hari esok. Kerahkan seluruh tenaga untuk membuat karya monumental bagi kemaslahatan umat. Haturkan kalimat-kalimat cinta kepada istri dan suami Anda, kalau-kalau itu adalah kalimat terakhir yang pernah Anda ucapkan padanya. Peluklah anak-anak Anda bagaikan seorang Mujahid yang akan mengejar kesyahidan di medan tempur. Tinggalkanlah rumah menuju tempat Anda bekerja dengan langkah penuh keyakinan dan benak yang dipenuhi ide-ide, karena barangkali itulah perjalanan terakhir Anda, dan Anda ingin segalanya serba spesial.

Hiduplah dengan cara yang istimewa, dan matilah dengan cara yang istimewa!

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s