Bundo Kanduang

 

Ranah Minangkabau terkenal dengan julukan Tanah Bundo Kanduang. Tetapi siapakah sebenarnya tokoh Bundo Kanduang itu? Adakah ia benar wujud?

Harian Sinar Harapan pernah memberitakan bahwa ‘Keturunan’ Bundo Kanduang masih hidup sampai sekarang, dan rumah yang mereka diami dikatakan sebagai kekal sejak abad 12. Tapi ternyata letaknya bukan lagi di pusat alam Minangkabau di Tanah Datar melainkan 362km ke arah Pesisir Selatan, tepatnya di Nagari Lunang. Nama beliau adalah Rakinah tapi masyarakat menyebutnya sebagai ‘Mande Rubiah’ usianya baru 43tahun belaka, ia dianggap keturunan terakhir Bundo Kanduang. Tak sembarang wartawan boleh mengambil gambarnya, kebanyakan jika ia tak berkenan hasilnya hanyalah rol film yang hangus. Wallahualam bishawab.

Ahli sejarah mengatakan ia hanyalah legenda saja. Tetapi terombo dan cerita orang tua-tua banyak menceritakan tokoh ini. Begini kisahnya…..

Ketika Raja Alam Minangkabau yang bergelar Yang Dipertuan Rajo Nan Sati (–Raja Nan Sakti) wafat, ternyata tiada waris yang layak buat menggantikannya. Tiada tunas yang patut dimuafatkan untuk mendapat ‘hidup beraja, mati berapat’ untuk naik tahta. Melainkan seorang saja yang karena kesaktian, kecerdasan, ilmu dan pengetahuan tentang adatnya ia berhak diangkat sebagai Maharatu Minangkabau. Dialah Puti Gadih Reno Jamilah Sari (–Puteri Gadis Ratna Jamilah Seri), dijuluk sebagai ‘Bundo Kandung”. Tak jelas adakah ia anak atau kemenakan Yang Dipertuan Rajo Nan Sati, tetapi satu hal bahwa ia sudah ditunangkan dengan semua anak-anak raja di ‘Pulau Paco, Pulau Ameh, Pulau Andaleh’ (–Perca;Emas;Andalas) tetapi tak seorang pun dari tunangannya bertahan hidup hingga ke hari perkawinan ‘alek gadang’ (–helat gedang/besar).

Ternyata satu orang yang kuat menahan ilmu Bundo Kanduang yaitu seimbang untuk menjadi suaminya, tiada jauh dari istana. Tepatnya dialah Pujangga istana Pagaruyung bernama Salamek Panjang Gombak, tetapi yang lebih pelik adalah kenyataan bahwa ia telah beristri bernama Kambang Bandohari (–Kembang Bendahari).

Akhirnya berdasar mufakat kaum ‘cadiak pandai-ninik mamak’ jadilah Selamat Panjang Gombak berkawin dengan Bundo Kanduang. Kemudian lahirlah ‘Dang Tuanku’ sedangkan dari Kambang Bandohari lahir ‘Bujang Cindur Mato’. Kedua-duanya diasuh oleh Bundo Kanduang dengan tugas yang berbeda sebagai pembesar istana. Kelak Dang Tuanku menjadi Yang Dipertuan Alam Minangkabau bergelar Sutan Rumandung. Sedangkan Cindur Mato menjadi pahlawan Minang yang terbilang namanya dan tiada tanding. (Baca Hikayat Cindua Mato).

Dan Adek Minangkabau pun taruih balanjuik….

Tak lakang dek paneh, Tak lapuak dek hujan

Dibawah pimpinan ninik-mamak, pangulu nan gadang

Basa Batuah di nagari-nagari Luak Nan Tigo

3 Comments Add yours

  1. mybc says:

    BUNDO KANDUANG artinya ibu kandung bukan ibu tiri

    orang minang itu sastranya terlalu berlebihan sehingga bundo kanduang diartikan sebuah kerajaan padahal itu hanya sebuah mitos, sampai sekarang tidak ada definisi yang jelas tentang itu, suatu anggapan bahwa istilah BK diperuntukkan untuk ibu-ibu pejabat, sedang ibu-ibu yang miskin tidak termasuk dalam kategori BK. maka hal telah menyimpang dari arti yang sebenarnya. lebih baik katakan saja Bundo Kayo dan Bundo miskin saja. oke !!!!!

  2. Franz says:

    bro,.

    aku asal bengkulu, aku punya tambo keluarga. benar nenek rubiah masih hidup dan menjaga Istana Kami di Tapan, yang mana didalam istna terdapat sebuah Pedang yang melayang di atap Bubungan.
    disamping rumah tersebt terdapat sebuah kuburan “Bundo Kanduang”

  3. Risa Kota Putra says:

    Ada pepetah Minang, begini: Banyak Limpiang, Banyak pulo lapek, artinya banyak rundiang (komentar), banyak pulo sasek (kesesatan). Pepatah kedua: Bulek baguliang-gulian, Tatumbuak di nan data; artinya Bialah mangecek bapusiang-pusiang, nak nyo tumbuah di nan bana (tumbuh kebenaran). Komentar itu baik, tapi jangan asal komentar. Dasarilah pada fakta dan kompetensi keilmuan. Sejarah Minangkabau, ditutupi awan kelabu, karena dahulu di Minangkabau tidak lazim budaya menulis, tetapi yang biasa adalah budaya bertutur (kaba). Wahai rang cadiak pandai ungkapkanlah kebenaran. Trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s